BAUBAU – Siapa sangka, aksara Korea Selatan yang selama ini identik dengan drama Korea dan K-Pop ternyata digunakan oleh masyarakat di Indonesia untuk menuliskan bahasa daerah mereka sendiri.
Fenomena unik ini terjadi di Kota Baubau, Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Sebagian masyarakat suku Cia-Cia mengadaptasi aksara Hangeul (한글), yakni sistem tulisan yang digunakan dalam bahasa Korea, untuk menuliskan bahasa ibu mereka.
Namun, jangan salah sangka. Masyarakat Cia-Cia bukan sedang belajar berbicara bahasa Korea. Mereka tetap menggunakan bahasa Cia-Cia, hanya saja huruf yang digunakan untuk menuliskannya berasal dari Korea Selatan.
Kisah ini bermula dari persoalan pelestarian bahasa daerah. Selama berabad-abad, bahasa Cia-Cia diwariskan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ketiadaan sistem tulisan yang digunakan secara luas membuat pendokumentasian bahasa tersebut menjadi tantangan tersendiri.
Kondisi inilah yang kemudian mendorong munculnya gagasan untuk mencari sistem aksara yang dapat membantu bahasa Cia-Cia bertahan di tengah perkembangan zaman.
Berawal dari Pertemuan dengan Orang Korea
Menariknya, penggunaan Hangeul untuk bahasa Cia-Cia bukan terjadi secara tiba-tiba.
Gagasan tersebut berawal dari pertemuan dalam Simposium Internasional Pernaskahan pada Agustus 2005. Saat itu, Chun Tai-Hyun dari Hunmin Jeongeum Society, sebuah lembaga asal Korea Selatan, berbincang dengan Amirul Tamim yang ketika itu menjabat sebagai Wali Kota Baubau.
Dalam pertemuan tersebut, Chun menyebut bahasa Cia-Cia memiliki kemiripan bunyi dengan bahasa Korea. Dari perbincangan itulah muncul gagasan untuk mencoba mengadaptasi Hangeul sebagai sistem tulisan bahasa Cia-Cia.
Pada Juli 2008, Pemerintah Kota Baubau dan Hunmin Jeongeum Society menandatangani nota kesepahaman kerja sama di bidang kebudayaan dan pendidikan.
Setahun kemudian, tepatnya Juli 2009, buku pelajaran bahasa Cia-Cia yang ditulis menggunakan aksara Hangeul mulai diperkenalkan. Pengajaran perdana dilakukan di SD Negeri Karya Baru, Kecamatan Sorawolio.
Dua orang guru dari Baubau juga dikirim ke Korea Selatan untuk mempelajari sistem tulisan tersebut. Salah satunya adalah Abidin, yang kemudian menjadi salah satu pelopor pengajaran Hangeul untuk bahasa Cia-Cia.

Mengapa Harus Menggunakan Huruf Korea?
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah mengapa masyarakat Cia-Cia tidak menggunakan huruf Latin seperti bahasa Indonesia?
Salah satu alasannya berkaitan dengan karakter bunyi dalam bahasa Cia-Cia.
Sejumlah peneliti menilai ada bunyi tertentu dalam bahasa Cia-Cia yang sulit direpresentasikan secara tepat menggunakan ejaan Latin biasa. Misalnya, bunyi konsonan implosif yang memiliki karakter pengucapan berbeda dari bunyi huruf pada umumnya.
Aksara Hangeul kemudian dipandang sebagai salah satu alternatif karena memiliki susunan huruf yang dapat diadaptasi untuk menggambarkan bunyi bahasa tersebut.
Meski demikian, penggunaan Hangeul bukan berarti bahasa Cia-Cia berubah menjadi bahasa Korea. Kosakata, tata bahasa, dan cara pengucapannya tetap milik masyarakat Cia-Cia.
Dengan kata lain, mereka hanya meminjam hurufnya, bukan bahasanya.
Muncul Julukan Kampung Korea di Pulau Buton
Seiring berjalannya waktu, penggunaan Hangeul mulai terlihat di sejumlah sudut Kampung Karya Baru, Baubau.
Papan nama jalan, halte, sekolah hingga tulisan di beberapa tempat umum menggunakan kombinasi huruf Latin dan Hangeul.
Kondisi tersebut membuat Kampung Karya Baru dikenal dengan julukan Kampung Korea.
Bahkan, sejumlah anak muda setempat pernah mengembangkan komunitas Kampung Korea untuk memperkenalkan budaya dan tulisan tersebut kepada masyarakat luas.
Pada 2018, kelompok pemuda yang dipelopori Sarianto mulai membuat berbagai kegiatan, termasuk memperkenalkan tulisan Hangeul, memasang tulisan di ruang publik hingga menyediakan pakaian tradisional Korea Selatan atau hanbok untuk pengunjung.
Inisiatif tersebut sempat menarik perhatian wisatawan. Namun, aktivitas komunitas mengalami hambatan ketika pandemi Covid-19 melanda pada 2020.
Di sisi lain, upaya dokumentasi bahasa tetap berjalan. Abidin menerbitkan kamus bahasa Cia-Cia menggunakan aksara Hangeul pada 2021. Kamus tersebut kemudian menjadi salah satu bahan pembelajaran di sejumlah sekolah.
Tidak Semua Warga Bisa Membaca Hangeul
Meski terdengar unik dan membanggakan, perjalanan adaptasi aksara Korea di Baubau ternyata tidak selalu berjalan mulus.
Dalam laporan BBC News Indonesia yang diterbitkan 23 Oktober 2025, ditemukan bahwa penggunaan Hangeul di Kampung Karya Baru masih terbatas.
Di sekolah, pembelajaran aksara tersebut hanya berlangsung di beberapa tempat dan umumnya diberikan kepada siswa kelas 4 dan 5 SD sebagai pelajaran tambahan.
Keterbatasan jumlah pengajar juga menjadi kendala. Kepala SD Negeri Karya Baru menyebut pembelajaran belum bisa dilanjutkan ke jenjang berikutnya karena belum tersedia kurikulum berkelanjutan.
Bahkan, sejumlah warga mengaku sudah lupa cara membaca Hangeul karena tidak lagi mempelajarinya dalam kehidupan sehari-hari.
Ada pula warga dewasa yang sebenarnya ingin belajar, tetapi belum mendapatkan kesempatan karena pembelajaran lebih banyak menyasar anak-anak sekolah.
Persoalan lainnya adalah generasi muda yang mulai kurang memahami bahasa Cia-Cia itu sendiri.
Artinya, tantangan pelestarian bukan hanya soal bagaimana menuliskan bahasa tersebut, tetapi juga bagaimana memastikan generasi berikutnya tetap mampu berbicara dan memahami bahasa leluhurnya.

Peneliti Berbeda Pendapat, Apakah Hangeul Efektif?
Penggunaan aksara Korea untuk bahasa Cia-Cia juga mengundang perdebatan di kalangan peneliti bahasa.
Pada Februari 2025, Mifta Huzaena dari Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara memaparkan penelitian mengenai adaptasi Hangeul dalam bahasa Cia-Cia pada konferensi internasional pelestarian bahasa dan sastra di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa Hangeul memiliki potensi untuk digunakan menuliskan bahasa Cia-Cia. Namun, masih terdapat persoalan dalam ketepatan representasi bunyi dan penerimaan masyarakat.
Penggunaan aksara tersebut bahkan dinilai masih bersifat simbolis dan belum berkembang secara fungsional dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, diperlukan evaluasi, lokakarya ortografi serta keterlibatan lebih besar dari masyarakat penutur asli dalam menentukan sistem tulisan yang paling sesuai.
Sementara itu, peneliti Emily Paige Havens dari Dallas International University memiliki pandangan berbeda.
Berdasarkan penelitiannya di Kampung Bahari, Buton, pada 2022 hingga 2023, ia menilai aksara Latin yang dimodifikasi justru berpotensi lebih mudah diterima masyarakat dibandingkan Hangeul.
Menurutnya, Hangeul juga memiliki keterbatasan dalam menuliskan sejumlah struktur bunyi bahasa Cia-Cia, termasuk suku kata yang hanya terdiri atas vokal.
Ia juga menilai penggunaan huruf baru justru bisa menjadi hambatan karena masyarakat harus mempelajari sistem tulisan dari awal.
Di sisi lain, pengajar asal Korea Selatan, Jung Deuk Young, tetap memandang adaptasi Hangeul sebagai upaya yang patut dilanjutkan. Menurutnya, keterbatasan sistem tulisan tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghentikan usaha dokumentasi bahasa.
Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa upaya melestarikan bahasa daerah membutuhkan kajian linguistik yang matang sekaligus dukungan masyarakat setempat.
Bukan Bahasa Korea, Melainkan Identitas Masyarakat Cia-Cia
Terlepas dari berbagai perdebatan tersebut, kisah masyarakat Cia-Cia di Baubau menjadi salah satu contoh menarik bagaimana sebuah komunitas berusaha mempertahankan bahasa leluhurnya.
Mereka menunjukkan bahwa sistem tulisan sebenarnya dapat dipinjam dan diadaptasi dari kebudayaan lain selama disesuaikan dengan kebutuhan bahasa yang digunakan.
Namun, keberhasilan pelestarian bahasa tidak cukup hanya dengan memperkenalkan huruf baru atau memasang papan nama di jalan.
Bahasa harus tetap digunakan dalam percakapan keluarga, lingkungan masyarakat, pendidikan, serta diwariskan kepada anak-anak.
Sebab, sebuah bahasa bukan sekadar kumpulan kata dan huruf. Di dalamnya terdapat sejarah, identitas, pengetahuan, nilai-nilai, serta cara pandang suatu masyarakat terhadap dunia.
Kisah Cia-Cia dan Hangeul pun menyisakan satu pertanyaan penting: mampukah huruf Korea membantu menjaga bahasa asli masyarakat Buton agar tidak hilang ditelan zaman?
Artikel ini dilansir dari sejumlah referensi ilmiah, di antaranya jurnal Humaniora Universitas Gadjah Mada (UGM) berjudul “Cia-Cia Language: From the Era of Oral to the Era of Writing” serta jurnal Pendidikan dan Kebudayaan berjudul “Persoalan Pelestarian Bahasa Ciacia”.












