JAKARTA – Perut yang semakin membuncit kerap dianggap sekadar persoalan penampilan. Padahal, penumpukan lemak tubuh, terutama jika sudah masuk kategori obesitas, dapat berkaitan dengan meningkatnya risiko berbagai penyakit serius.
Dilansir dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, obesitas bukan sekadar masalah penampilan. Kondisi tersebut merupakan salah satu faktor risiko penyakit tidak menular, mulai dari diabetes, hipertensi, penyakit jantung hingga stroke.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi obesitas pada penduduk berusia lebih dari 18 tahun mencapai 23,4 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan 2018 yang berada di angka 21,8 persen. Artinya, sekitar satu dari empat orang dewasa di Indonesia hidup dengan obesitas.
Kemenkes menjelaskan, obesitas dipengaruhi berbagai faktor, termasuk faktor biologis, lingkungan dan genetik. Pola makan tidak sehat serta kurangnya aktivitas fisik juga dapat berperan terhadap terjadinya kelebihan berat badan.
Masalahnya tidak berhenti pada angka timbangan. Penumpukan lemak berlebih dapat berkaitan dengan perubahan metabolisme tubuh dan meningkatkan risiko munculnya penyakit kronis.
Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono pada Juli 2026 menegaskan bahwa obesitas perlu dipandang sebagai penyakit kronis, bukan sekadar persoalan estetika. Menurutnya, pengendalian obesitas dapat membantu mencegah berbagai komplikasi, termasuk diabetes, hipertensi dan penyakit jantung.
Perut Buncit dan Risiko Metabolik
Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah penumpukan lemak di area perut. Lemak berlebih, terutama lemak visceral yang berada di sekitar organ dalam, berkaitan dengan gangguan metabolisme.
Dalam pedoman nasional tata laksana obesitas dewasa yang ditetapkan Kemenkes, obesitas disebut sebagai penyakit metabolik kronik dengan penyebab yang kompleks dan multifaktorial. Pedoman tersebut juga menyebut obesitas berkaitan dengan peningkatan risiko hipertensi, gangguan kadar lemak darah, diabetes melitus tipe 2, penyakit jantung koroner dan stroke.
Karena itu, semakin besar lingkar perut bukan hanya soal ukuran pakaian yang berubah. Kondisi tersebut dapat menjadi salah satu tanda bahwa seseorang perlu lebih memperhatikan pola makan, aktivitas fisik dan kondisi metaboliknya.
Diabetes Juga Perlu Diwaspadai
Obesitas memiliki hubungan erat dengan diabetes tipe 2. Kemenkes menjelaskan bahwa pola konsumsi makanan tinggi gula, karbohidrat, tepung dan makanan dengan indeks glikemik tinggi dapat berkontribusi terhadap resistensi insulin, terutama jika disertai faktor risiko lainnya.
Data SKI 2023 juga menunjukkan adanya perbedaan cukup besar antara diabetes yang diketahui berdasarkan diagnosis dokter dan diabetes yang terdeteksi melalui pemeriksaan kadar gula darah. Pada penduduk usia 15 tahun ke atas, prevalensi berdasarkan diagnosis dokter sebesar 2,2 persen, sedangkan berdasarkan pemeriksaan kadar gula darah mencapai 11,7 persen.
Angka tersebut menunjukkan bahwa sebagian orang mungkin belum mengetahui dirinya memiliki masalah kadar gula darah.
Bukan Berarti Semua Perut Buncit Pasti Sakit
Meski demikian, perut buncit tidak otomatis berarti seseorang menderita diabetes, penyakit jantung atau penyakit metabolik lainnya.
Obesitas merupakan salah satu faktor risiko dan harus dilihat bersama faktor lain seperti tekanan darah, kadar gula darah, pola makan, aktivitas fisik, riwayat keluarga dan kondisi kesehatan secara keseluruhan.
Karena itu, langkah paling aman bukan sekadar mengejar bentuk tubuh ideal, tetapi menjaga kesehatan metabolik.
Mengurangi makanan tinggi gula, garam dan lemak, memperbanyak aktivitas fisik, menjaga berat badan serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala dapat menjadi langkah sederhana untuk menekan risiko penyakit.
Sumber: Dilansir dari Kementerian Kesehatan RI, Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kemenkes, serta Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Obesitas Dewasa Kemenkes RI.












