BAUBAUEKONOMIKENDARIKOLAKAKONAWESULAWESI TENGGARA

Inflasi Sultra Juni 2026 Tembus 4,68 Persen, Baubau Tertinggi, Kolaka Posisi Kedua 

36
×

Inflasi Sultra Juni 2026 Tembus 4,68 Persen, Baubau Tertinggi, Kolaka Posisi Kedua 

Sebarkan artikel ini

KENDARI – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mencatat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) di Sulawesi Tenggara pada Juni 2026 mencapai 4,68 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 114,60. Seluruh kabupaten/kota yang menjadi sampel penghitungan IHK di provinsi ini mengalami inflasi.

Berdasarkan data BPS, Kota Baubau menjadi daerah dengan inflasi tahunan tertinggi di Sulawesi Tenggara, yakni 5,60 persen dengan IHK 116,58. Di posisi berikutnya terdapat Kabupaten Kolaka dengan inflasi 5,33 persen dan IHK 115,78, disusul Kota Kendari sebesar 5,14 persen dengan IHK 113,83. Sementara itu, Kabupaten Konawe mencatat inflasi tahunan terendah, yakni 2,12 persen dengan IHK sebesar 113,78.

Selain inflasi tahunan, Sulawesi Tenggara juga mengalami inflasi bulan ke bulan (month-to-month/m-to-m) sebesar 1,29 persen dan inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) sebesar 4,55 persen.

Pada tingkat kabupaten/kota, inflasi bulanan tertinggi terjadi di Kota Baubau sebesar 2,13 persen, diikuti Kota Kendari 1,50 persen, Kabupaten Konawe 1,00 persen, dan Kabupaten Kolaka 0,51 persen.

BPS menjelaskan, inflasi tahunan dipicu oleh kenaikan harga pada seluruh kelompok pengeluaran. Kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 8,55 persen, disusul kelompok transportasi 6,59 persen, kelompok makanan, minuman, dan tembakau 5,88 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 3,81 persen.

Sementara itu kelompok pendidikan 3,81 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran 2,66 persen, kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga 2,37 persen, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya 1,24 persen, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 1,22 persen, kelompok kesehatan 0,37 persen, serta kelompok pakaian dan alas kaki 0,08 persen.

Sejumlah komoditas tercatat menjadi penyumbang utama inflasi tahunan, antara lain emas perhiasan, angkutan udara, bahan bakar rumah tangga, ikan layang, ikan cakalang, minyak goreng, bensin, Sigaret Kretek Mesin (SKM), ikan selar, bayam, tomat, uang kuliah perguruan tinggi, ikan kembung, beras, telepon seluler, mobil, sawi hijau, sepeda motor, ikan katamba, bawang merah, lemari pakaian, dan pelumas mesin.

Sebaliknya, komoditas seperti ikan mujair, ikan gabus, telur ayam ras, daun singkong, cabai rawit, tempe, dan kelapa memberikan andil terhadap deflasi.

Dalam pembentukan inflasi tahunan Sulawesi Tenggara, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan andil 1,98 persen, disusul transportasi 1,01 persen, perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,70 persen, serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,44 persen. Kondisi ini menunjukkan tekanan kenaikan harga di Sulawesi Tenggara pada Juni 2026 masih didominasi oleh kebutuhan pokok, transportasi, dan komoditas energi.