KHAZANAH

Kelahiran Nabi Muhammad SAW dan Masa Kecil di Bani Sa’d

293
×

Kelahiran Nabi Muhammad SAW dan Masa Kecil di Bani Sa’d

Sebarkan artikel ini
Foto : Ilustrasi

Kelahiran (Bagian 1)

Nabi Muhammad ﷺ dilahirkan di tengah keluarga Bani Hasyim, di Kota Makkah, pada Senin pagi, 9 Rabiul Awwal, pada permulaan tahun terjadinya peristiwa Gajah. Kelahiran beliau terjadi sekitar empat puluh tahun setelah kekuasaan Kisra Anusyirwan, atau bertepatan dengan 20 atau 22 April 571 M. Penetapan waktu tersebut didasarkan pada penelitian ulama Muhammad Sulaiman Al-Manshurfuri dan penelitian astronomi Mahmud Basya.

Kelahiran Rasulullah ﷺ menjadi salah satu peristiwa besar yang menandai datangnya sosok yang kelak membawa risalah Islam kepada seluruh umat manusia. Ibunda beliau, Aminah binti Wahb, merasakan pengalaman luar biasa ketika melahirkan putranya.

Ibnu Sa’d meriwayatkan bahwa Aminah berkata, “Setelah bayiku keluar, aku melihat ada cahaya yang keluar dari kemaluanku, menyinari istana-istana di Syam.”

Riwayat serupa juga disampaikan oleh Imam Ahmad dari Al-Arbadh bin Sariyah.

Sejumlah riwayat juga menyebutkan beberapa peristiwa luar biasa yang terjadi bertepatan dengan kelahiran Rasulullah ﷺ. Di antaranya adalah runtuhnya sepuluh balkon istana Kisra, padamnya api yang selama ini disembah oleh orang-orang Majusi, serta runtuhnya sejumlah gereja di sekitar Buhairah setelah bangunan-bangunan tersebut ambles ke tanah. Riwayat mengenai peristiwa-peristiwa tersebut disebutkan oleh Al-Baihaqi, meskipun tidak diakui oleh Muhammad Al-Ghazali.

Setelah melahirkan, Aminah segera mengutus seseorang untuk menyampaikan kabar gembira kepada Abdul Muththalib, kakek Rasulullah ﷺ. Mendengar kelahiran cucunya, Abdul Muththalib datang dengan penuh suka cita. Ia kemudian membawa Rasulullah ﷺ ke dalam Ka’bah, berdoa kepada Allah dan mengungkapkan rasa syukurnya atas karunia tersebut.

Abdul Muththalib memilih nama Muhammad untuk cucunya. Nama tersebut pada saat itu belum dikenal luas di kalangan bangsa Arab. Rasulullah ﷺ juga dikhitan pada hari ketujuh setelah kelahirannya, sebagaimana kebiasaan yang berlaku di kalangan bangsa Arab.

Wanita pertama yang menyusui Rasulullah ﷺ setelah ibundanya adalah Tsuwaibah, seorang hamba sahaya milik Abu Lahab. Ketika itu Tsuwaibah sedang menyusui putranya yang bernama Masruh. Sebelumnya, ia juga pernah menyusui Hamzah bin Abdul Muththalib. Setelah itu, Tsuwaibah menyusui Abu Salamah bin Abdul Asad Al-Makhzumi.

Di Tengah Bani Sa’d

Perkampungan Bani Sa’d. Foto: YouTube Alman Mulyana

Pada masa itu, terdapat tradisi di kalangan bangsa Arab, terutama masyarakat yang tinggal di perkotaan, untuk menyerahkan bayi mereka kepada wanita-wanita dari pedalaman agar disusui. Tradisi tersebut dilakukan dengan berbagai tujuan, antara lain menjauhkan anak-anak dari penyakit yang mudah menyebar di daerah perkotaan, memperkuat pertumbuhan tubuh dan otot mereka, serta membiasakan mereka menggunakan bahasa Arab yang fasih.

Karena itu, Abdul Muththalib mencari seorang wanita dari Bani Sa’d bin Bakr yang bersedia menyusui Rasulullah ﷺ. Wanita tersebut adalah Halimah As-Sa’diyah, putri Abu Dzu’aib. Ia datang bersama suaminya, Al-Harits bin Abdul Uzza, yang dikenal dengan julukan Abu Kabsyah. Keduanya berasal dari kabilah yang sama.

Di keluarga Halimah, Rasulullah ﷺ memiliki beberapa saudara sesusuan. Mereka adalah Abdullah bin Al-Harits, Anisa binti Al-Harits, serta Hudzafah atau Judzamah binti Al-Harits yang lebih dikenal dengan nama Asy-Syaima’. Asy-Syaima’ bahkan menjadi nama yang lebih populer daripada nama aslinya.

Selain itu, Rasulullah ﷺ juga memiliki saudara sesusuan dari kalangan keluarga beliau sendiri. Abu Sufyan bin Al-Harits bin Abdul Muththalib, putra paman beliau, termasuk di antaranya.

Hamzah bin Abdul Muththalib, paman Rasulullah ﷺ, juga pernah disusui di Bani Sa’d bin Bakr. Dengan demikian, Hamzah merupakan saudara sesusuan Rasulullah ﷺ dari dua jalur, yaitu melalui Tsuwaibah dan melalui Halimah As-Sa’diyah.

Sejak Rasulullah ﷺ berada dalam asuhan Halimah, keluarga tersebut mulai merasakan berbagai keberkahan. Kehadiran beliau membawa perubahan yang membuat Halimah dan keluarganya merasa takjub.

Ibnu Ishaq meriwayatkan kisah dari Halimah bahwa pada suatu masa ia pergi meninggalkan daerahnya bersama suaminya, anak kecil yang sedang disusuinya, serta sejumlah wanita dari Bani Sa’d. Mereka berangkat menuju Makkah untuk mencari bayi yang dapat mereka susui.

Saat itu, mereka berada dalam kondisi paceklik. Halimah menggambarkan bahwa keluarganya sedang mengalami kesulitan dan tidak banyak harta yang tersisa. Ia berangkat dengan menunggangi seekor keledai betina berwarna putih bersama beberapa wanita dari Bani Sa’d lainnya, dengan tujuan mencari bayi yang dapat mereka susui.

Setibanya di Makkah, para wanita dari Bani Sa’d mulai mencari bayi yang dapat mereka susui. Namun, hampir semua wanita menolak ketika ditawarkan untuk menyusui Muhammad ﷺ setelah mengetahui bahwa beliau adalah anak yatim.

Bagi mereka, menyusui seorang bayi berarti mengharapkan imbalan dari ayah bayi tersebut. Karena Muhammad ﷺ telah kehilangan ayahnya, mereka khawatir tidak akan mendapatkan imbalan yang memadai.

Akibatnya, setiap wanita dalam rombongan Halimah telah mendapatkan bayi untuk disusui, kecuali dirinya.

Ketika rombongan hendak kembali ke daerah Bani Sa’d, Halimah berkata kepada suaminya, “Demi Allah, aku tidak ingin kembali bersama teman-temanku tanpa membawa seorang bayi untuk disusui. Demi Allah, aku benar-benar akan mendatangi anak yatim itu dan membawanya.”

Suaminya menjawab, “Memang ada baiknya jika engkau melakukan hal itu. Semoga saja Allah mendatangkan barakah bagi kita pada diri anak itu.”
Halimah pun mendatangi Rasulullah ﷺ dan memutuskan untuk membawanya.

Ia kemudian menggendong beliau dan membawanya kembali ke tempat tunggangannya. Ketika ia menawarkan puting susunya kepada Rasulullah ﷺ, beliau langsung menyusu hingga kenyang. Anak kandung Halimah pun dapat menyusu dengan cukup hingga kenyang.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Halimah dan suaminya dapat tidur dengan tenang. Sebelumnya, mereka hampir tidak pernah tidur karena harus menenangkan anak mereka yang terus menangis akibat kelaparan.

Suami Halimah kemudian mendatangi unta tua milik mereka. Ternyata, air susunya menjadi penuh. Mereka pun memerahnya dan meminum susu tersebut hingga kenyang.

Malam itu terasa sangat berbeda bagi keluarga Halimah.
Keesokan harinya, suaminya berkata kepada Halimah, “Demi Allah, tahukah engkau, wahai Halimah, engkau telah mengambil satu jiwa yang penuh barakah?”

Halimah menjawab, “Demi Allah, aku pun berharap yang demikian itu.”

Keberkahan di Tengah Bani Sa’d

Halimah kemudian melanjutkan perjalanan pulang bersama Rasulullah ﷺ. Ia menunggangi keledai yang sama, tetapi kali ini keledai tersebut mampu berjalan jauh lebih cepat dan kuat dibandingkan sebelumnya.
Para wanita yang ikut dalam rombongan bahkan merasa heran melihat perubahan tersebut.

Mereka berkata kepada Halimah, “Wahai putri Abu Dzu’aib, celaka engkau! Tunggulah kami. Bukankah ini keledaimu yang dahulu engkau bawa bersama kita?”

Halimah menjawab, “Demi Allah, begitulah. Ini adalah keledaiku yang dulu.”

Mereka pun berkata, “Demi Allah, keledaimu itu kini bertambah perkasa.”
Sesampainya di daerah Bani Sa’d, Halimah kembali merasakan perubahan yang luar biasa. Ia menuturkan bahwa tanah tempat tinggal mereka menjadi lebih subur. Domba-domba mereka pulang dalam keadaan kenyang dan kantong susunya penuh sehingga dapat diperah.

Sementara itu, ternak milik orang-orang lain yang digembalakan di tempat yang sama pulang dalam keadaan lapar dan tidak menghasilkan susu.
Keadaan tersebut membuat masyarakat sekitar memperhatikan perbedaan yang terjadi pada ternak Halimah. Mereka bahkan meminta para penggembala agar menggembalakan ternak mereka di tempat yang sama dengan ternak Halimah.

Namun, hasilnya tetap berbeda. Ternak Halimah pulang dalam keadaan kenyang dan menghasilkan susu, sementara ternak mereka tetap tidak menghasilkan susu.

Halimah menuturkan bahwa keluarganya senantiasa merasakan tambahan barakah dan kebaikan selama Rasulullah ﷺ berada dalam asuhan mereka.
Selama kurang lebih dua tahun, Rasulullah ﷺ disusui dan tumbuh dengan baik. Pertumbuhan beliau bahkan tampak lebih cepat dibandingkan anak-anak seusianya. Setelah masa menyusui selesai, Halimah membawa Rasulullah ﷺ kembali kepada ibundanya, Aminah.

Meski demikian, Halimah masih berharap agar Rasulullah ﷺ tetap tinggal bersamanya. Ia telah merasakan keberkahan selama merawat beliau.
Halimah kemudian memohon kepada Aminah agar mengizinkan Muhammad ﷺ kembali tinggal bersamanya. Ia bahkan menyampaikan kekhawatirannya apabila beliau terkena penyakit yang biasa menjalar di Makkah.

Halimah terus membujuk Aminah hingga akhirnya Rasulullah ﷺ kembali bersamanya di tengah Bani Sa’d. Di sanalah beliau tinggal hingga berusia sekitar empat atau lima tahun, sebelum terjadinya peristiwa pembelahan dada.

(Diolah dari buku Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri)