Menjaga kesehatan ginjal tidak selalu membutuhkan langkah yang rumit. Justru, sejumlah kebiasaan sehari-hari yang dianggap sepele dapat meningkatkan risiko gangguan pada organ yang berperan penting menyaring limbah dan menjaga keseimbangan cairan tubuh.
Dilansir dari laman resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko penyakit ginjal antara lain diabetes, hipertensi, obesitas, pola makan tinggi garam atau gula, serta kebiasaan jarang minum air putih.
Salah satu kebiasaan yang perlu diperhatikan adalah kurang minum.
Kemenkes menyebut konsumsi air yang cukup membantu ginjal mengeluarkan natrium, urea, dan berbagai sisa metabolisme tubuh melalui urine. Kekurangan cairan atau dehidrasi juga dapat menyebabkan berkurangnya aliran darah menuju ginjal dan berkontribusi terhadap gangguan ginjal akut.
Selain itu, terlalu banyak mengonsumsi garam juga perlu diwaspadai. Asupan garam berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah, sementara hipertensi merupakan salah satu faktor penting yang dapat menyebabkan kerusakan ginjal.
Kemenkes menyarankan masyarakat membatasi konsumsi natrium hingga tidak lebih dari sekitar 2.300 miligram per hari dan mengurangi makanan olahan atau siap saji yang umumnya mengandung garam cukup tinggi.
Kebiasaan lain yang sering luput dari perhatian adalah penggunaan obat pereda nyeri tanpa pengawasan. Kemenkes menjelaskan bahwa obat antinyeri golongan NSAID termasuk zat yang dalam kondisi tertentu dapat bersifat nefrotoksik atau merusak ginjal. Risiko ini menjadi lebih penting diperhatikan, terutama jika obat digunakan secara tidak tepat atau pada orang dengan kondisi tertentu.
Bukan hanya kebiasaan makan dan penggunaan obat. Tekanan darah dan kadar gula darah yang tidak terkontrol juga dapat secara perlahan memengaruhi fungsi ginjal.
Kemenkes menyebut diabetes dapat menyebabkan komplikasi berupa kerusakan ginjal.
Sementara tekanan darah tinggi yang berlangsung terus-menerus juga dapat merusak sel-sel ginjal. Karena itu, pemeriksaan gula darah dan tekanan darah secara berkala menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan.
Kemenkes juga mencatat bahwa obesitas, infeksi saluran kemih atau infeksi ginjal yang berulang, riwayat keluarga dengan penyakit ginjal, penyakit autoimun, serta faktor usia dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami penyakit ginjal.
Masalahnya, gangguan ginjal tidak selalu langsung menimbulkan keluhan yang jelas. Karena itu, masyarakat tidak sebaiknya menunggu munculnya gejala berat sebelum melakukan pemeriksaan.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain perubahan jumlah atau warna urine, urine yang keruh atau bercampur darah, pembengkakan pada tungkai, nyeri pada bagian belakang tubuh, serta rasa sakit ketika buang air kecil.
Dengan demikian, menjaga ginjal sebenarnya dimulai dari kebiasaan sederhana: cukup minum, mengurangi garam dan makanan tidak sehat, menjaga berat badan, rutin beraktivitas fisik, mengendalikan tekanan darah dan gula darah, serta tidak menggunakan obat secara sembarangan.
Sumber: Dilansir dari laman resmi Kementerian Kesehatan RI, Ayo Sehat dan Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes RI.












