Peristiwa Pembelahan Dada (Bagian 2)
Peristiwa pembelahan dada menjadi salah satu kejadian penting dalam masa kanak-kanak Rasulullah ﷺ. Peristiwa ini terjadi ketika beliau masih berada dalam asuhan Halimah As-Sa’diyah di tengah Bani Sa’d.
Imam Muslim meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah ﷺ didatangi Malaikat Jibril ketika beliau sedang bermain bersama beberapa anak kecil lainnya.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu kejadian luar biasa yang dialami Rasulullah ﷺ pada masa kanak-kanaknya. Setelah peristiwa itu, Halimah merasa khawatir terhadap keselamatan beliau. Kekhawatiran tersebut mendorongnya untuk mengembalikan Rasulullah ﷺ kepada ibundanya, Aminah.
Sejak saat itu, Rasulullah ﷺ kembali hidup bersama ibundanya hingga berusia sekitar enam tahun.
Kembali ke Pangkuan Ibunda Tercinta
Setelah kembali ke pangkuan Aminah, Rasulullah ﷺ menjalani masa kanak-kanak bersama ibunda tercintanya. Namun, kebersamaan itu tidak berlangsung lama.
Aminah kemudian merasa perlu mengenang suaminya, Abdullah bin Abdul Muththalib, yang telah meninggal dunia sebelum Rasulullah ﷺ dilahirkan. Ia pun berkeinginan mengunjungi makam suaminya di Yastrib.
Aminah berangkat dari Makkah bersama putranya yang masih kecil dan yatim, Muhammad ﷺ. Dalam perjalanan tersebut, ia ditemani Ummu Aiman, pembantunya. Perjalanan menuju Yastrib menempuh jarak yang sangat jauh, sekitar lima ratus kilometer.
Perjalanan tersebut mendapat dukungan dari Abdul Muththalib. Setelah sampai di Yastrib, Aminah dan rombongannya menetap selama kurang lebih satu bulan.
Setelah itu, Aminah bersiap kembali ke Makkah. Namun, perjalanan pulang tersebut menjadi perjalanan terakhir dalam hidupnya.
Di tengah perjalanan, Aminah jatuh sakit. Kondisinya semakin lemah hingga akhirnya ia meninggal dunia di Abwa’, sebuah tempat yang terletak antara Makkah dan Madinah.

Rasulullah ﷺ yang ketika itu baru berusia sekitar enam tahun kembali menghadapi kehilangan yang sangat besar. Beliau telah kehilangan ayah sebelum sempat mengenalnya, dan kini harus kehilangan ibunda yang selama ini merawat dan mencurahkan kasih sayang kepadanya.
Di usia yang masih sangat muda, Rasulullah ﷺ pun menjadi yatim piatu.
Kembali ke Kakek yang Penuh Kasih Sayang
Setelah Aminah meninggal dunia, Rasulullah ﷺ kembali ke Makkah dan berada dalam pengasuhan kakeknya, Abdul Muththalib.
Kehilangan kedua orang tuanya membuat kasih sayang Abdul Muththalib kepada cucunya semakin besar. Ia memahami bahwa Muhammad ﷺ kini harus menghadapi cobaan baru di atas luka kehilangan ayah dan ibundanya.
Hatinya dipenuhi kasih sayang kepada sang cucu. Bahkan, perhatian Abdul Muththalib kepada Rasulullah ﷺ begitu besar dan berbeda dibandingkan perhatian yang ia berikan kepada anak-anaknya sendiri.
Ia tidak ingin cucunya hidup sebatang kara. Ia senantiasa menjaga, memperhatikan, dan memuliakan Rasulullah ﷺ.
Ibnu Hisyam menggambarkan salah satu bentuk kasih sayang tersebut melalui sebuah peristiwa yang terjadi di dekat Ka’bah.
Ketika itu terdapat sebuah dipan yang biasa digunakan Abdul Muththalib untuk duduk. Para kerabatnya biasa duduk di sekelilingnya, tetapi tidak seorang pun berani duduk di atas dipan tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada Abdul Muththalib.
Suatu hari, ketika Rasulullah ﷺ masih kecil, beliau datang dan duduk di atas dipan tersebut. Para paman beliau segera memegang dan menahan agar beliau tidak duduk di sana.
Ketika Abdul Muththalib melihat kejadian itu, ia justru memanggil Rasulullah ﷺ dan membiarkan beliau duduk di atas dipan tersebut.
Perlakuan itu menunjukkan betapa besar kasih sayang Abdul Muththalib kepada cucunya. Di tengah kehilangan orang-orang yang paling dekat dengannya, Rasulullah ﷺ masih mendapatkan perlindungan dan kasih sayang dari sang kakek.
Namun, kebersamaan antara Rasulullah ﷺ dan Abdul Muththalib kembali tidak berlangsung lama.
Ketika Rasulullah ﷺ berusia sekitar delapan tahun, Abdul Muththalib meninggal dunia. Dengan wafatnya sang kakek, Rasulullah ﷺ kembali kehilangan sosok yang selama ini memberikan kasih sayang dan perlindungan kepadanya.
Setelah itu, pengasuhan Rasulullah ﷺ beralih kepada pamannya, Abu Thalib.
Demikianlah fase awal kehidupan Rasulullah ﷺ. Sejak kecil, beliau telah mengalami berbagai ujian kehilangan. Ayahnya wafat sebelum beliau lahir, ibundanya meninggal ketika beliau masih berusia sekitar enam tahun, kemudian kakeknya wafat ketika beliau berusia sekitar delapan tahun.
Namun, di balik rangkaian kehilangan tersebut, Allah senantiasa menyiapkan orang-orang yang memberikan perlindungan dan kasih sayang kepada beliau. Setelah Abdul Muththalib wafat, Allah menempatkan Rasulullah ﷺ dalam pengasuhan Abu Thalib.
Dari sinilah perjalanan kehidupan Rasulullah ﷺ memasuki fase berikutnya, yaitu masa bersama sang paman yang kelak menjadi salah satu sosok penting dalam kehidupan beliau sebelum masa kenabian.
(Mengutip buku Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri)





