KHAZANAH

Jauh Sebelum Kenabian, Nabi Muhammad Dijuluki Al-Amin

11
×

Jauh Sebelum Kenabian, Nabi Muhammad Dijuluki Al-Amin

Sebarkan artikel ini
Mekkah. Foto: Wikipedia

Daya Tarik Kepribadian Nabi Muhammad ﷺ Sebelum Kenabian (Bagian 5/ Selesai)

Sebelum menerima kenabian, Rasulullah ﷺ telah dikenal memiliki kepribadian yang unggul. Sejak masa pertumbuhan, beliau menunjukkan ketajaman berpikir, pandangan yang lurus, kecerdasan, serta kemampuan mengambil keputusan dengan tepat.

Beliau juga dikenal sebagai sosok yang banyak merenung dan mengamati keadaan di sekitarnya. Dengan akal yang jernih, beliau memperhatikan kehidupan masyarakat dan berbagai persoalan yang terjadi di tengah kaumnya. Dengan fitrah yang suci, beliau mampu melihat berbagai keadaan manusia dan tidak mudah terpengaruh oleh kebiasaan yang menurut beliau tidak benar.

Rasulullah ﷺ merasa risih terhadap berbagai bentuk khurafat dan praktik yang tidak sesuai dengan fitrah yang lurus. Beliau tetap berinteraksi dengan masyarakat, tetapi tidak larut dalam kebiasaan buruk mereka. Ketika menemukan sesuatu yang baik, beliau ikut dalam kebaikan tersebut. Sebaliknya, ketika melihat sesuatu yang tidak baik, beliau memilih menjaga jarak dan lebih menyukai kesendirian.

Sejak sebelum kenabian, Rasulullah ﷺ tidak dikenal sebagai orang yang gemar meminum khamr. Beliau juga tidak ikut menyantap hewan yang disembelih untuk dipersembahkan kepada berhala serta tidak menghadiri ritual penyembahan patung.

Beliau bahkan sangat membenci penyembahan kepada berhala. Dalam berbagai riwayat sirah disebutkan bahwa sejak kecil Allah menjaga beliau dari berbagai praktik jahiliah yang bertentangan dengan fitrah yang lurus.

Allah Menjaga Rasulullah ﷺ dari Kebiasaan Jahiliah

Sejumlah riwayat menggambarkan bagaimana Allah menjaga Rasulullah ﷺ dari keinginan untuk mengikuti kebiasaan buruk masyarakat jahiliah.

Ibnul Atsir meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah menyampaikan bahwa hanya dua kali beliau pernah memiliki keinginan untuk mengikuti sebagian kebiasaan pemuda pada masa jahiliah. Namun, setiap kali keinginan tersebut muncul, Allah memberikan penghalang sehingga beliau tidak sampai melakukannya.

Dalam salah satu peristiwa, Rasulullah ﷺ yang ketika itu masih menggembala kambing pernah meminta seorang rekannya menjaga kambing-kambing tersebut karena beliau ingin pergi ke Makkah dan melihat kegiatan para pemuda di sana.

Ketika tiba di Makkah, beliau mendengar suara rebana dari sebuah rumah. Setelah bertanya, beliau mengetahui bahwa sedang berlangsung sebuah pesta pernikahan.

Beliau kemudian duduk untuk menyaksikan acara tersebut. Namun, sebelum menyaksikan lebih jauh, beliau tertidur hingga akhirnya terbangun setelah matahari terbit. Beliau kemudian kembali kepada rekannya.

Hal serupa terjadi pada kesempatan berikutnya. Setelah mengalami kejadian tersebut, Rasulullah ﷺ tidak lagi memiliki keinginan untuk mengikuti kebiasaan semacam itu.

Menjaga Kehormatan Sejak Sebelum Kenabian

Ketika Ka’bah direnovasi, Rasulullah ﷺ turut membantu bersama pamannya, Abbas bin Abdul Muththalib, dengan mengangkat batu untuk pembangunan.

Dalam sebuah riwayat yang diriwayatkan Al-Bukhari dari Jabir bin Abdullah, Abbas menyarankan Rasulullah ﷺ menaikkan pakaiannya agar terlindung dari batu. Namun, ketika beliau melakukannya, beliau justru terjatuh.

Rasulullah ﷺ kemudian segera menutup kembali tubuhnya. Peristiwa tersebut menjadi salah satu gambaran tentang bagaimana beliau senantiasa dijaga untuk menjaga kehormatan dan menutup aurat.

Al-Amin, Gelar yang Diberikan Masyarakat Makkah

Rasulullah ﷺ memiliki kedudukan istimewa di tengah masyarakat Quraisy bahkan sebelum beliau menerima wahyu.

Beliau dikenal memiliki tutur kata yang lembut, akhlak yang mulia, pergaulan yang baik, serta sikap yang penuh penghormatan terhadap orang lain. Beliau dikenal jujur dalam perkataan, menjaga kehormatan diri, menepati janji, dan dapat dipercaya dalam berbagai urusan.

Karena sifat-sifat tersebut, masyarakat Quraisy memberikan gelar Al-Amin, yang berarti orang yang dapat dipercaya.

Kepercayaan tersebut bukan sekadar gelar, tetapi merupakan hasil dari kepribadian Rasulullah ﷺ yang telah dikenal masyarakat sejak masa muda. Bahkan ketika terjadi perselisihan antarkabilah dalam renovasi Ka’bah, masyarakat Quraisy menerima keputusan beliau karena mengetahui kejujuran dan kebijaksanaan yang dimilikinya.

Khadijah رضي الله عنها juga menggambarkan kepribadian Rasulullah ﷺ dengan menyebut beberapa sifat mulia beliau. Ketika Rasulullah ﷺ menerima wahyu pertama dan pulang dalam keadaan ketakutan, Khadijah menenangkan beliau dengan mengingatkan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan orang yang memiliki sifat-sifat baik: membantu keluarga, menanggung beban orang lain, menyantuni orang miskin, memuliakan tamu, dan membantu orang yang berada di jalan kebenaran.

Kepribadian tersebut telah menjadi bagian dari diri Rasulullah ﷺ jauh sebelum beliau menerima risalah. Kejujuran, kesucian jiwa, amanah, kepedulian kepada sesama, dan akhlak yang mulia menjadi sifat yang membuat beliau dihormati oleh masyarakat Makkah.

(Diolah dari buku Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri)