MUNAREGIONAL

Saat Air Bersih Jadi Barang Dagangan, Warga Muna Bertahan dari Tetesan Bambu

17
×

Saat Air Bersih Jadi Barang Dagangan, Warga Muna Bertahan dari Tetesan Bambu

Sebarkan artikel ini

MUNA – Krisis air bersih di Dusun Kasitala, Desa Kotano Wuna, Kecamatan Tongkuno, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, memperlihatkan sisi lain dari beratnya kehidupan warga saat kemarau panjang.

Ketika kebutuhan air bersih semakin mendesak, sebagian warga justru harus mencari sumber air sendiri hingga ke kebun dan hutan. Bahkan, mereka rela keluar rumah pada malam hari untuk menyadap air dari batang bambu.

Aktivitas tersebut terekam dalam video yang beredar pada Sabtu (12/9/2026). Dengan penerangan seadanya, warga terlihat membawa jeriken dan parang untuk mencari batang bambu yang masih mengeluarkan air.

Bukan tanpa alasan mereka memilih malam hari. Menurut keterangan warga, batang bambu hanya mengeluarkan tetesan air sejak sekitar pukul 21.00 hingga menjelang pagi. Pada siang maupun sore hari, bambu disebut tidak lagi mengeluarkan air.

Hasilnya pun jauh dari mencukupi. Tiga batang bambu yang disadap semalaman hanya menghasilkan sekitar lima liter air.

Air tersebut bahkan harus segera digunakan karena tidak dapat disimpan dalam waktu lama. Warga menyebut air akan membusuk dan mengeluarkan bau menyengat jika disimpan lebih dari dua hari.

Di tengah kondisi itu, muncul persoalan lain. Warga menyebut mobil tangki air milik desa tersedia, tetapi air yang didistribusikan harus dibeli.

Satu tandon berkapasitas sekitar 600 liter disebut dibanderol Rp85 ribu hingga Rp90 ribu. Sedangkan satu mobil tangki penuh disebut mencapai Rp340 ribu.

Bagi warga yang sedang kesulitan mendapatkan air sekaligus menghadapi tekanan ekonomi akibat kemarau, biaya tersebut menjadi beban tersendiri.

Situasi ini kemudian memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana fasilitas desa dapat digunakan untuk membantu masyarakat ketika kebutuhan dasar seperti air bersih berada dalam kondisi darurat.

Warga berharap pemerintah daerah segera hadir dengan solusi nyata, khususnya melalui distribusi air bersih yang dapat diakses masyarakat tanpa membebani kemampuan ekonomi mereka.

Sebab, di tengah kemarau, persoalannya bukan lagi sekadar mencari air. Bagi warga Kasitala, mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari telah berubah menjadi perjuangan yang harus dilakukan hingga tengah malam.