EKONOMIKOLAKA TIMUR

16 Persen Produksi Padi Sultra dari Koltim, Akses Jalan Jadi Sorotan

31
×

16 Persen Produksi Padi Sultra dari Koltim, Akses Jalan Jadi Sorotan

Sebarkan artikel ini

KOLAKA TIMUR – Kabupaten Kolaka Timur (Koltim) menyumbang sekitar 16 persen dari total produksi padi di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Namun, besarnya kontribusi daerah tersebut terhadap ketahanan pangan belum sepenuhnya diimbangi kondisi infrastruktur yang memadai. Akses jalan menuju kawasan pertanian pun menjadi salah satu perhatian yang disorot Gubernur Sultra, Andi Sumangerukka.

Sorotan itu disampaikan saat Gubernur menghadiri Panen Raya Padi Sawah di hamparan persawahan Desa Iwoikondo, Kecamatan Loea, Sabtu (31/10/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Andi Sumangerukka menilai kontribusi Koltim terhadap produksi padi Sultra cukup besar. Karena itu, dukungan infrastruktur, terutama akses jalan dan fasilitas pertanian, perlu mendapat perhatian agar aktivitas produksi dan distribusi hasil panen berjalan lebih optimal.

Ia secara khusus menyoroti kondisi jalan menuju lokasi kegiatan yang dinilai masih membutuhkan pembenahan. Gubernur meminta pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten menuntaskan perbaikan infrastruktur sesuai kewenangan masing-masing.

Menurutnya, pembangunan sektor pertanian tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan produksi. Dukungan infrastruktur juga diperlukan agar potensi pertanian yang dimiliki daerah dapat memberikan manfaat ekonomi lebih besar bagi masyarakat.

Di sisi lain, capaian produksi padi Koltim memang menunjukkan perkembangan positif. Produksi gabah kering giling (GKG) meningkat 22,81 persen, dari 88.481 ton pada 2024 menjadi 108.666 ton pada 2025.

Gubernur mengaku bersyukur panen raya tetap dapat dilaksanakan meskipun Koltim tengah menghadapi kekeringan akibat fenomena El Nino.

“Kita patut bersyukur, di tengah kondisi kekeringan yang berkepanjangan, sore ini kita masih bisa melaksanakan panen padi,” ungkapnya.

Selain infrastruktur jalan, Gubernur mendorong petani mulai menerapkan pola pertanian yang lebih profesional dengan memanfaatkan teknologi modern. Ia menilai sektor pertanian memiliki peluang ekonomi besar apabila dikelola secara produktif dan berorientasi pada peningkatan hasil.

Ia mengilustrasikan, produktivitas sembilan ton gabah per hektare dengan harga Rp7.200 per kilogram berpotensi menghasilkan penjualan kotor sekitar Rp64,8 juta dalam satu kali panen, sebelum dikurangi biaya produksi.

Gubernur berharap dukungan teknologi, ketersediaan air, dan infrastruktur irigasi dapat meningkatkan frekuensi panen petani dari dua kali menjadi empat kali dalam setahun.

Ia juga mengingatkan pentingnya antisipasi terhadap perubahan cuaca ekstrem. Kondisi kekeringan yang terjadi saat ini perlu diikuti dengan persiapan menghadapi potensi curah hujan tinggi yang dapat memicu banjir pada tahun mendatang.

Karena itu, pembangunan penampungan air dan pengelolaan sumber daya air dinilai penting untuk menjaga ketersediaan air sepanjang musim tanam.

Luas sawah eksisting di Koltim saat ini mencapai 16.680,94 hektare. Ditambah cetak sawah baru pada 2025 seluas 1.950 hektare, total luas lahan sawah mencapai sekitar 18.631 hektare.

Pada 2026, luas panen padi sawah periode Januari hingga Oktober diproyeksikan mencapai 23.417 hektare dengan estimasi produksi sekitar 128.794 ton.

Meski demikian, sektor pertanian masih menghadapi tantangan akibat kekeringan. Sekitar 2.878 hektare lahan sawah terdampak, dengan 801 hektare di antaranya mengalami puso atau gagal panen. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan kehilangan produksi hingga 4.405 ton.