HEADLINENASIONAL

Kapal Induk Italia ITS Giuseppe Garibaldi Resmi Jadi Milik Indonesia, Berganti Nama jadi KRI Sriwijaya-100

25
×

Kapal Induk Italia ITS Giuseppe Garibaldi Resmi Jadi Milik Indonesia, Berganti Nama jadi KRI Sriwijaya-100

Sebarkan artikel ini
Kapal induk pertama Indonesia, KRI Sriwijaya-100. Foto: Net

JAKARTA – Indonesia resmi memasukkan kapal induk eks-Angkatan Laut Italia ITS Giuseppe Garibaldi ke dalam jajaran TNI Angkatan Laut. Dalam upacara di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (24/9), bendera Italia diturunkan dan Merah Putih dikibarkan di atas kapal, menandai perubahan status kapal tersebut menjadi milik Indonesia.

Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto kemudian mengukuhkan nama baru kapal tersebut sebagai KRI Sriwijaya-100. Dengan demikian, kapal eks-Italia itu secara resmi menjadi bagian dari TNI AL dan tercatat sebagai kapal induk pertama Indonesia.

Prosesi tersebut menjadi puncak dari proses yang telah berlangsung selama beberapa waktu. Kapal tiba di Dermaga 107 Tanjung Priok pada 18 September 2026 setelah berlayar dari Italia sejak 24 Agustus.

Dalam pelayaran menuju Indonesia, kapal sempat singgah di sejumlah negara, termasuk Sri Lanka, sebelum memasuki perairan Indonesia melalui ALKI I di sekitar Bangka Belitung. Saat memasuki wilayah Indonesia, kapal dikawal KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321.

Dari ITS Giuseppe Garibaldi menjadi KRI Sriwijaya

Sebelum menggunakan nama KRI Sriwijaya, kapal ini dikenal sebagai ITS Giuseppe Garibaldi-551. Kapal tersebut merupakan salah satu kapal perang penting dalam sejarah modern Angkatan Laut Italia.

Garibaldi dibangun oleh Fincantieri di Monfalcone, Italia. Kapal mulai dibangun pada 1981, diluncurkan pada 1983, dan resmi masuk dinas Angkatan Laut Italia pada Juli 1985. Kapal ini memiliki panjang sekitar 180 meter, lebar 33,4 meter dan bobot perpindahan sekitar 14.500 ton.

Sistem propulsinya menggunakan empat turbin gas Fiat COGAG dengan total tenaga sekitar 81.000 hp dan kecepatan maksimum sekitar 29 knot.

Angkatan Laut Italia menyebut Garibaldi sebagai kapal dengan geladak penerbangan penuh pertama yang dibangun untuk armada Italia serta kapal Italia pertama yang dirancang untuk mengoperasikan pesawat STOVL (Short Take-Off and Vertical Landing) dan helikopter.

Dalam sejarah pengabdiannya, Garibaldi tidak hanya berfungsi sebagai kapal pembawa pesawat dan helikopter, tetapi juga menjalankan berbagai operasi internasional. Pada 2015–2016, misalnya, kapal ini pernah berperan sebagai kapal komando dalam operasi EUNAVFOR MED Operation Sophia di Laut Mediterania.

Angkatan Laut Italia kemudian mengandalkan ITS Cavour sebagai kapal induk utamanya. Situs resmi Marina Militare menyebut Cavour menggantikan Garibaldi dalam peran kapal induk sejak 2009.

Garibaldi akhirnya dipensiunkan Italia pada 2024. Pada 2026, kapal tersebut kemudian dialihkan kepada Indonesia dan menjalani perjalanan terakhirnya dari Italia menuju Jakarta.

Kapal berusia lebih dari empat dekade

Saat tiba di Indonesia, Garibaldi telah berusia sekitar 41 tahun sejak pertama kali masuk dinas pada 1985. Meski demikian, kapal tersebut masih memiliki kemampuan sebagai platform operasi udara dan laut.

Kepala Staf TNI AL Laksamana TNI Muhammad Ali sebelumnya menjelaskan bahwa kapal akan menjalani pembenahan fisik dan perbaikan mesin setelah diserahkan kepada Indonesia. Pekerjaan tersebut melibatkan PT PAL bersama Fincantieri, perusahaan yang sebelumnya membangun Garibaldi.

Indonesia juga melakukan perubahan tampilan kapal. Sejumlah bagian bangunan dan lambung kapal dicat ulang mengikuti standar warna kapal perang TNI AL. Nomor lambung juga disiapkan untuk menyesuaikan identitas barunya.

Bukan sekadar kapal pembawa pesawat

KRI Sriwijaya tidak dirancang untuk menjalankan peran yang sama persis dengan kapal induk besar seperti yang dimiliki Amerika Serikat.

Indonesia menempatkan kapal tersebut dalam konsep yang lebih luas. Selain mendukung operasi militer, kapal direncanakan dapat digunakan untuk operasi militer selain perang, termasuk mendukung operasi kemanusiaan dan penanggulangan bencana.

Dengan geladak penerbangannya, kapal dapat menjadi platform untuk mengoperasikan helikopter dan sistem udara nirawak. Pemerintah juga melihat kapal tersebut sebagai pusat komando bergerak yang dapat dikerahkan ke berbagai wilayah kepulauan Indonesia.

Kemampuan ini dinilai relevan dengan kondisi geografis Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau dan sering menghadapi bencana seperti banjir, kebakaran hutan, serta keadaan darurat yang membutuhkan pengerahan personel dan peralatan melalui laut.

Mengapa dinamakan Sriwijaya?

Nama Sriwijaya merujuk pada kerajaan maritim besar yang pernah berkembang di kawasan Sumatra dan memiliki jaringan perdagangan serta pengaruh maritim luas di Asia Tenggara.

Penggunaan nama tersebut sekaligus memberikan identitas Indonesia kepada kapal yang sebelumnya menggunakan nama tokoh sejarah Italia, Giuseppe Garibaldi.

Sebelumnya sempat muncul rencana untuk menggunakan nama KRI Gajah Mada, tetapi TNI AL kemudian memastikan nama yang digunakan adalah KRI Sriwijaya.

Tonggak baru TNI AL

Dengan masuknya KRI Sriwijaya-100, Indonesia kini memiliki kapal dengan geladak penerbangan berukuran besar yang dapat mendukung operasi udara dari laut. Ini menjadi tonggak baru dalam sejarah TNI AL.

Namun, status sebagai kapal induk tidak berarti kapal tersebut langsung beroperasi penuh. Setelah serah terima, masih diperlukan proses refurbishment, perbaikan mesin, penyesuaian sistem, penyiapan pangkalan dan pembentukan awak sebelum kapal mencapai kemampuan operasional yang direncanakan.

Pada akhirnya, perjalanan kapal ini merupakan perubahan besar: dari ITS Giuseppe Garibaldi, kapal perang yang mengabdi selama puluhan tahun kepada Italia, menjadi KRI Sriwijaya-100, kapal induk pertama dalam sejarah TNI AL.

Pada pagi 24 September 2026, perubahan tersebut secara resmi ditandai dengan berkibarnya Merah Putih di ujung geladak kapal di Tanjung Priok. (ron)