HEADLINEMANCANEGARA

WMO Keluarkan Peringatkan El Nino Luar Biasa, Ancaman Kekeringan dan Cuaca Ekstrem Membayangi Dunia

4
×

WMO Keluarkan Peringatkan El Nino Luar Biasa, Ancaman Kekeringan dan Cuaca Ekstrem Membayangi Dunia

Sebarkan artikel ini
Foto PBB - Elma Okic

JAKARTA – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan potensi dampak El Nino ekstrem yang diperkirakan mencapai puncak pada Desember 2026. Asia Tenggara menjadi salah satu kawasan yang perlu mewaspadai peningkatan suhu, kekeringan, serta risiko kebakaran hutan dan kabut asap.

Peringatan tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), Celeste Saulo, saat memaparkan pembaruan iklim musiman global terbaru. Ia menyebut fenomena El Nino yang berkembang berpotensi memiliki kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam catatan pemantauan selama empat dekade terakhir.

WMO memperkirakan suhu permukaan laut di kawasan Pasifik tropis dapat meningkat hingga 3,8 derajat Celsius di atas rata-rata selama periode November 2026 hingga Januari 2027. Dampak fenomena ini diperkirakan tetap terasa meskipun El Niño telah melewati puncaknya.

Menurut Saulo, El Nino yang sangat kuat dapat mengganggu pola suhu dan curah hujan di berbagai belahan dunia. Sejumlah wilayah berpotensi mengalami kekeringan parah, sedangkan wilayah lainnya menghadapi hujan lebat dan banjir. Peningkatan suhu juga dapat memperbesar risiko terjadinya cuaca ekstrem.

Di Asia Tenggara, kondisi yang lebih panas dan berkurangnya curah hujan berpotensi meningkatkan paparan suhu ekstrem serta menekan sektor pertanian dan ketersediaan air. Risiko kebakaran hutan dan lahan juga menjadi perhatian, terutama di kawasan yang rentan mengalami kekeringan.

Dampak berbeda diperkirakan terjadi di kawasan lain. Afrika Timur berpeluang mengalami curah hujan di atas normal selama musim hujan Oktober hingga Desember, sehingga meningkatkan risiko banjir. Sebaliknya, Afrika bagian selatan berpotensi menghadapi kondisi lebih kering yang dapat mengganggu produksi tanaman, pasokan air, dan mata pencaharian masyarakat.

Di benua Amerika, peningkatan curah hujan diperkirakan terjadi di Amerika Serikat bagian barat laut dan sejumlah wilayah di bagian selatan Amerika Selatan. Sementara itu, beberapa kawasan Amerika Tengah, Karibia bagian selatan, dan Amazon berpotensi menghadapi peningkatan risiko kekeringan.

WMO menegaskan bahwa prakiraan tersebut merupakan gambaran kondisi iklim musiman, bukan prediksi pasti mengenai waktu dan lokasi terjadinya setiap peristiwa cuaca ekstrem. Prakiraan regional dan nasional tetap diperlukan untuk menentukan wilayah prioritas dan langkah antisipasi.

Saulo juga mengingatkan bahwa El Nino dapat memperburuk kebutuhan kemanusiaan, khususnya bagi masyarakat yang sudah rentan akibat kemiskinan, konflik, dan keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar. Kelompok pengungsi serta masyarakat yang tinggal di wilayah dengan layanan air bersih, sanitasi, dan kesehatan yang terbatas menghadapi risiko tambahan.

Untuk mengantisipasi dampak tersebut, WMO bekerja sama dengan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) dan berbagai mitra kemanusiaan guna menerjemahkan prakiraan iklim menjadi langkah kesiapsiagaan yang konkret.

WMO menyerukan tindakan antisipatif yang cepat dan terkoordinasi, termasuk memperkuat sistem peringatan dini, mempersiapkan operasi kemanusiaan, serta melindungi masyarakat yang paling rentan terhadap dampak cuaca ekstrem.

Meski El Nino tidak dapat dihentikan, Saulo menekankan bahwa dampak terburuknya terhadap manusia dapat dikurangi melalui kesiapsiagaan, pemanfaatan informasi ilmiah, dan tindakan dini oleh pemerintah serta organisasi kemanusiaan.