NASIONAL

BMKG Warning! El Nino Makin Kuat, Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Kering hingga September

5
×

BMKG Warning! El Nino Makin Kuat, Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Kering hingga September

Sebarkan artikel ini
Kebakaran Lahan. Foto: BNPB

Jakarta – Ancaman kemarau panjang membayangi Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat fenomena El Nino kini berada pada kategori kuat dan berpotensi meningkat menjadi sangat kuat.

Kondisi tersebut diperkirakan memperparah dampak musim kemarau, terutama pada Agustus hingga September 2026. Masyarakat diminta mewaspadai potensi kekeringan dan berbagai dampak ikutannya.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan El Nino tidak sama dengan musim kemarau. El Nino merupakan fenomena iklim global yang dapat memperkuat kondisi kering ketika terjadi bersamaan dengan musim kemarau.

“El Nino merupakan tantangan yang berdampak pada berbagai sektor pembangunan nasional. Membangun ketahanan menghadapi El Nino memerlukan kesiapsiagaan lintas sektor yang didukung oleh informasi iklim yang akurat, tepat waktu, dan dapat dipertanggungjawabkan,” tegas Faisal dilansir dari laman resmi BMKG.

BMKG menyebut El Nino kuat berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, menurunkan ketersediaan air, mengganggu produksi pangan, serta meningkatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan.

Dampaknya tidak berhenti pada sektor lingkungan dan pertanian. Kondisi tersebut juga berpotensi memengaruhi sektor energi, kesehatan hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

BMKG Sudah Ingatkan Sejak Maret

BMKG mengklaim telah menyampaikan prediksi potensi El Nino sejak Maret 2026. Peringatan dini tersebut diberikan agar pemerintah pusat, pemerintah daerah, kementerian dan lembaga, dunia usaha hingga masyarakat dapat menyiapkan langkah mitigasi lebih awal.

Faisal menegaskan BMKG terus memperkuat pendekatan From Early Warning to Early Action. Artinya, informasi iklim harus segera diterjemahkan menjadi langkah konkret sebelum dampak berkembang menjadi bencana.

“Informasi iklim harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata sehingga pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dapat melakukan langkah antisipatif sebelum dampak terjadi,” ujarnya.

Sejumlah layanan disiapkan BMKG untuk mendukung langkah tersebut, mulai dari prediksi ENSO dan musim, prakiraan hujan, analisis dampak sektoral, hingga sistem peringatan dini kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan.

BMKG juga menyediakan informasi iklim berbasis kebutuhan sektor serta mendukung pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) jika diperlukan.

Menurut Faisal, informasi iklim kini diarahkan agar semakin spesifik dan mudah digunakan oleh masing-masing sektor.

Di sektor pertanian, informasi tersebut dapat menjadi dasar penyusunan kalender tanam adaptif. Sementara di sektor sumber daya air, informasi iklim dapat digunakan untuk mengantisipasi berkurangnya ketersediaan air.

Mitigasi juga diarahkan pada pencegahan karhutla serta pengurangan dampak terhadap sektor kesehatan dan energi.

Dengan langkah tersebut, BMKG menekankan bahwa informasi iklim tidak boleh hanya menjadi data ilmiah. Informasi tersebut harus menjadi dasar kebijakan dan tindakan untuk melindungi masyarakat dari dampak El Nino.