KENDARI, SIARANPUBLIK.COM – Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Andi Sumangerukka (ASR), merespons video viral yang memperlihatkan siswa menyeberangi sungai untuk menuju sekolah di Desa Mataosu, Kecamatan Watubangga, Kabupaten Kolaka, akibat belum tersedianya jembatan penghubung.
Video tersebut menunjukkan para siswa harus melintasi Sungai Poleang yang menjadi jalur penghubung antara Kabupaten Kolaka dan Kabupaten Bombana. Kondisi ini dinilai berisiko terhadap keselamatan, terutama saat musim hujan ketika debit air meningkat.
Menindaklanjuti hal itu, Gubernur ASR telah berkomunikasi langsung dengan Kepala Dinas terkait serta Komandan Resor Militer (Danrem) 143/HO guna membahas percepatan pembangunan jembatan di wilayah tersebut.
“Kondisi ini tidak boleh dibiarkan berlarut. Karena itu, saya meminta kepada Kepala Dinas terkait dan kami juga berkoordinasi langsung bersama Danrem 143/HO agar rencana pembangunan jembatan ini segera ditindaklanjuti secara terpadu,” ujar Gubernur ASR, yang melakukan perbincangan melalui sambungan telepon dengan Kepala Dinas terkait serta Komandan Resor Militer (Danrem) 143/HO.
Menurut ASR, pembangunan jembatan penghubung di Desa Mataosu merupakan kebutuhan mendesak untuk menjamin keselamatan warga, sekaligus menjaga akses pendidikan dan aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan.
Ia menegaskan telah memerintahkan Kepala Dinas terkait untuk segera menindaklanjuti rencana pembangunan tersebut serta meminta dukungan dari pihak TNI agar upaya pembangunan jembatan dapat dipercepat.
Dalam perbincangan itu, Danrem 143/HO menyampaikan bahwa tim teknis telah turun langsung ke lokasi untuk melakukan peninjauan lapangan. Hasil peninjauan tersebut, termasuk justifikasi teknis dan estimasi anggaran yang dibutuhkan, akan segera disampaikan kepada pemerintah daerah.
Danrem juga mengungkapkan bahwa kondisi tersebut telah dilaporkan kepada Pangdam sebagai bagian dari koordinasi lanjutan.
Berdasarkan hasil kunjungan lapangan, Sungai Poleang yang menjadi batas wilayah Kabupaten Kolaka dan Kabupaten Bombana memiliki lebar bervariasi antara 30 hingga 50 meter.
Jalur tersebut tidak hanya digunakan oleh anak sekolah, tetapi juga menjadi akses utama masyarakat antar desa di kedua wilayah. Pada musim kemarau, ketinggian air sungai berkisar 15 hingga 20 sentimeter sehingga masih dapat dilintasi kendaraan roda dua maupun roda empat. Namun saat musim hujan, kedalaman air dapat meningkat hingga 4 hingga 5 meter dengan arus yang deras, sehingga keberadaan jembatan dinilai sangat dibutuhkan.
Di akhir perbincangan via selular tersebut,Gubernur ASR menyampaikan apresiasi kepada para siswa yang telah berani menyampaikan kondisi tersebut hingga menjadi perhatian pemerintah.
“Terima kasih kepada para anak sekolah yang berani menyampaikan aspirasinya kepada saya. Ini merupakan penghargaan bagi saya dan saya diingatkan oleh mereka,” tutupnya.






