KOLAKA UTARA

Momen Sukacita Berubah Duka, Bocah 10 Tahun Tenggelam saat Hadiri Peluncuran Perahu Pamannya di Kolut

171
×

Momen Sukacita Berubah Duka, Bocah 10 Tahun Tenggelam saat Hadiri Peluncuran Perahu Pamannya di Kolut

Sebarkan artikel ini

KOLAKA UTARA – Suasana penuh sukacita di acara peluncuran perahu baru berubah menjadi duka mendalam setelah seorang bocah berusia 10 tahun ditemukan meninggal dunia akibat tenggelam di sungai Desa Pitulua, Kecamatan Lasusua, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, Senin (20/7/2026) sekitar pukul 13.30 Wita.

Korban diketahui bernama Muh. Rafa (10), siswa kelas IV MIS Muhammadiyah Tojabi. Ia datang bersama ibu dan keluarganya untuk menghadiri prosesi peluncuran perdana perahu milik pamannya ke Sungai Pitulua, sebuah tradisi menurunkan perahu baru ke perairan untuk pertama kalinya.

Berdasarkan keterangan Ketua BPD Desa Pitulua, Ahmad Yarib, saat perahu selesai diluncurkan ke sungai, Rafa yang masih mengenakan seragam sekolah putih-merah tersebut sempat terlihat berada di daratan. Setelah prosesi selesai, seluruh tamu kemudian mengikuti acara makan bersama sebagai bentuk rasa syukur.

Namun, di tengah kegiatan tersebut, keluarga mulai menyadari Rafa sudah tidak berada di antara mereka. Pencarian pun langsung dilakukan dengan melibatkan warga yang hadir di lokasi.

Dari hasil penelusuran, beberapa anak yang berada di sekitar lokasi mengaku terakhir kali melihat Rafa berada di sekitar area penggalian material pasir yang berada di tepi sungai.

“Mungkin terperosok atau bagaimana. Lokasi tenggelamnya memang cukup dalam. Jadi pada saat pencarian itu, jasad korban muncul ke permukaan hingga langsung dievakuasi,” ujar Ahmad Yarib.

Setelah ditemukan, Rafa segera dilarikan ke puskesmas terdekat. Namun, nyawanya tidak berhasil diselamatkan. Tangis keluarga pun pecah saat mengetahui nyawa bocah tersebut tidak terselamatkan lagi.

Jenazah Rafa kemudian dipulangkan ke rumah duka di Desa Tojabi, Kecamatan Lasusua, untuk dimakamkan.

Peristiwa ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan warga yang sebelumnya berkumpul untuk merayakan peluncuran perahu. Momen yang semula menjadi ajang syukuran berubah menjadi hari berkabung setelah kepergian Rafa untuk selama-lamanya.