SIAK – Air mata Bupati Siak, Afni Zulkifli, tak terbendung saat menyaksikan langsung perjuangan anak-anak sekolah di wilayah daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T) di Kabupaten Siak, Riau.
Di tengah kekayaan sumber daya alam yang melimpah, masih ada anak-anak yang harus menghadapi keterbatasan fasilitas dasar untuk bersekolah.
Afni mengungkapkan kisah tersebut melalui pernyataannya usai meresmikan revitalisasi sekolah di Kampung Teluk Lanus dan meninjau progres pembangunan rumah untuk guru di wilayah Dusun Mungkal. Rumah tersebut dibangun melalui dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Menurut Afni, kondisi pendidikan di wilayah tersebut masih jauh dari kata sempurna. Salah satu persoalan yang paling memprihatinkan adalah belum tersedianya bus sekolah bagi anak-anak.
Akibatnya, para siswa harus berdesakan dan sebagian bahkan berdiri selama hampir dua jam dalam perjalanan pergi dan pulang sekolah.
“Anak-anak kami masih belum punya bus sekolah, mereka harus bertumpuk berdiri hampir dua jam hanya untuk pergi dan pulang sekolah,” kata Afni.
Tak hanya persoalan transportasi, Dusun Mungkal juga masih menghadapi keterbatasan akses listrik. Kondisi tersebut dinilai menjadi ironi karena wilayah Dusun Mungkal dan Kabupaten Siak secara umum berada di tengah kawasan yang memiliki kekayaan sumber daya alam berlimpah.
“Daerah 3T ini juga belum teraliri listrik. Padahal Dusun Mungkal dan Siak secara umum dikelilingi kekayaan alam yang berlimpah ruah,” ujarnya.
Anak 3T Masih Menunggu Program MBG
Persoalan lain yang turut menjadi perhatian Afni adalah belum tersentuhnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi wilayah 3T di Kabupaten Siak.
Ia mengatakan, hingga kini belum ada satu pun wilayah 3T di Kabupaten Siak yang mendapatkan layanan program nasional tersebut.
Afni menyebut pihaknya telah berulang kali menyampaikan persoalan itu kepada Badan Gizi Nasional (BGN), termasuk memohon agar wilayah 3T di Siak mendapat perhatian.
“Karena ini program pusat, sudah lama kami menyampaikan ke BGN, bermohon-mohon di setiap kesempatan, tapi entah kapan-kapan dapat jawaban,” tuturnya.
Afni mengaku kondisi tersebut menjadi beban emosional bagi dirinya sebagai kepala daerah. Ia mengatakan, masih banyak persoalan yang harus dibenahi demi memenuhi kebutuhan masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa dirinya baru dilantik sebagai Bupati Siak pada 4 Juni 2025. Sejak awal, niatnya disebut sederhana, yakni kembali ke kampung halaman dan berbuat semampunya untuk masyarakat.
“Maafkan kami. Saya baru dilantik sebagai Bupati Siak tanggal 4 Juni 2025. Niat hati sederhana, hanya ingin balek kampung, berbuat baik semampu badan,” ungkapnya.
Menurut Afni, tantangan pemerintah daerah tidak hanya berkaitan dengan proses hukum berupa dua kali sengketa di Mahkamah Konstitusi (MK), tetapi juga persoalan warisan utang dan pemangkasan anggaran hingga ratusan miliar rupiah.
Namun, berbagai persoalan tersebut disebut tidak akan membuat pemerintah daerah menyerah.
“Ujian kami tak hanya soal dua kali ke MK, tapi juga mengurai warisan utang dan pemangkasan anggaran ratusan miliar. Namun apa pun yang terjadi saat ini, kami tidak akan menyerah,” katanya.
Di tengah keterbatasan itu, Afni berharap perjuangan pemerintah daerah bersama masyarakat dapat terus berjalan untuk menghadirkan pelayanan dasar yang lebih layak bagi warga, terutama anak-anak yang tinggal di wilayah 3T.
“Sangat banyak rasanya salah kami pada rakyat. Semoga Allah SWT memaafkan dan meridhoi apa-apa yang kami perjuangkan,” ucap Afni.












