RAGAM

Pakar China Ungkap Risiko Foto Selfie Pose “Dua Jari”, AI Disebut Bisa Ekstrak Sidik Jari

27
×

Pakar China Ungkap Risiko Foto Selfie Pose “Dua Jari”, AI Disebut Bisa Ekstrak Sidik Jari

Sebarkan artikel ini
Foto: Ilustrasi

SIARANPUBLIK.COM- Acara varietas televisi di China baru-baru ini mengundang perhatian publik setelah membahas potensi ancaman keamanan yang berasal dari foto selfie dengan pose tanda damai atau peace sign.

Dalam tayangan tersebut, pakar keamanan keuangan China, Li Chang, mendemonstrasikan bagaimana perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan perangkat lunak pengolah gambar memungkinkan pola sidik jari yang tampak samar dalam sebuah foto diperjelas hingga dapat dianalisis.

Dilansir dari South China Morning Post,
Li Chang mengungkapkan banyak orang tidak menyadari bahwa ketika mereka mengangkat dua jari membentuk simbol “V” ke arah kamera, sebagian pola sidik jari ikut terekam oleh sensor kamera, terutama pada foto beresolusi tinggi.

Dengan bantuan AI, detail yang semula sulit dilihat dapat dipertajam melalui proses peningkatan kualitas gambar (image enhancement), sehingga pola garis-garis pada ujung jari menjadi lebih jelas.

Dalam demonstrasinya, Li menunjukkan tahapan bagaimana gambar selfie diproses menggunakan perangkat lunak khusus. Awalnya, foto diperbesar untuk mengidentifikasi area yang memuat ujung jari.

Selanjutnya, teknologi AI digunakan untuk meningkatkan ketajaman dan kontras gambar, sehingga pola sidik jari yang sebelumnya kabur menjadi lebih terlihat. Hasil akhirnya memperlihatkan bahwa sebagian karakteristik sidik jari dapat direkonstruksi dari foto yang diambil dalam kondisi tertentu.

Ia menjelaskan bahwa tingkat keberhasilan proses tersebut bergantung pada sejumlah faktor, seperti resolusi kamera, jarak pengambilan gambar, pencahayaan, dan posisi tangan terhadap kamera.

Menurutnya, foto yang diambil dari jarak sekitar 1,5 meter dengan kualitas tinggi memiliki potensi lebih besar untuk memperlihatkan detail sidik jari dibandingkan foto yang diambil dari jarak lebih jauh. Pada jarak antara 1,5 hingga 3 meter, sebagian pola masih mungkin dipulihkan, meskipun kualitasnya menurun.

Pembahasan dalam acara itu juga menghadirkan pandangan dari kalangan akademisi. Profesor kriptografi dari University of Chinese Academy of Sciences, Jing Jiwu, menjelaskan bahwa kemajuan teknologi kamera dan AI memang membuka kemungkinan rekonstruksi informasi biometrik dari gambar digital.

Namun, ia menekankan bahwa proses tersebut tidak selalu mudah dilakukan dan memerlukan kualitas gambar yang memadai. Faktor seperti fokus kamera, pencahayaan yang baik, serta sudut pengambilan foto sangat menentukan keberhasilan ekstraksi data.

Jing juga menilai bahwa risiko terbesar muncul ketika seseorang secara rutin mengunggah foto beresolusi tinggi di media sosial. Jika pelaku memiliki akses terhadap banyak foto dari individu yang sama, mereka dapat mengumpulkan lebih banyak detail biometrik untuk dianalisis.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa penggunaan sidik jari hasil rekonstruksi untuk menembus sistem keamanan modern tidak sesederhana yang dibayangkan karena banyak perangkat saat ini menggunakan lapisan perlindungan tambahan untuk memverifikasi keaslian sidik jari.

Topik tersebut memicu diskusi luas di media sosial China. Sebagian warganet mengaku khawatir karena selama ini sering berfoto dengan pose tanda damai tanpa menyadari adanya risiko privasi. Sementara itu, sebagian lainnya menilai ancaman tersebut masih relatif terbatas dan memerlukan kemampuan teknis yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang.

Meski demikian, para pakar keamanan digital yang dikutip dalam program tersebut menyarankan masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam membagikan foto beresolusi tinggi yang memperlihatkan detail tubuh secara jelas, termasuk sidik jari. Mereka menilai perkembangan AI membuat data biometrik menjadi aset yang semakin berharga sekaligus rentan terhadap penyalahgunaan apabila tidak dijaga dengan baik.

Kasus ini menjadi contoh bagaimana kemajuan teknologi tidak hanya membawa manfaat, tetapi juga menciptakan tantangan baru dalam perlindungan privasi. Foto selfie yang selama ini dianggap sebagai bentuk ekspresi sederhana ternyata dapat menyimpan informasi biometrik yang berpotensi dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab jika jatuh ke tangan yang salah.