KOLAKA UTARAREGIONAL

Kolaka Utara Ditawari Fasilitas Pengelolaan Sampah Senilai Rp68 Miliar, Skema Bagi Hasil 10 Persen

17
×

Kolaka Utara Ditawari Fasilitas Pengelolaan Sampah Senilai Rp68 Miliar, Skema Bagi Hasil 10 Persen

Sebarkan artikel ini

KOLAKA UTARA – Center of Waste Management Indonesia (CWMI) menawarkan investasi pembangunan fasilitas pengolahan sampah senilai Rp68 miliar di Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, Sabtu (10/10/2026). Dalam penawaran tersebut, pemerintah daerah juga ditawari skema pembagian keuntungan sebesar 10 persen.

Investasi Rp68 miliar itu mencakup pembangunan fasilitas pengolahan sampah menggunakan teknologi Hydrothermal Waste Treatment Technology (HWTT), pengadaan mesin, pembangunan infrastruktur pendukung, instalasi, hingga kebutuhan operasional awal.

Namun, rincian komponen biaya dan sumber pendanaan masih perlu diperjelas melalui kajian kelayakan serta dokumen kerja sama resmi.

Dalam presentasinya, CWMI menawarkan skema kerja sama Build-Operate-Transfer (BOT) dengan masa konsesi selama 30 tahun. Skema tersebut juga mencakup tipping fee sebesar Rp250.000 per ton sampah dan pembagian keuntungan sebesar 10 persen untuk pemerintah.

Meski demikian, seluruh skema tersebut masih berupa penawaran dan belum menjadi kesepakatan final dengan Pemerintah Kabupaten Kolaka Utara.

Bupati Kolaka Utara, Nur Rahman Umar, menekankan pentingnya penanganan sampah secara serius, termasuk upaya memanfaatkan limbah agar memiliki nilai tambah.

“Sampah ini bukanlah hal yang kita anggap biasa-biasa saja. Ini menjadi titik perhatian kita semua agar sampah tidak mengganggu, tetapi juga dapat mendatangkan nilai tambah,” kata Nurrahman.

Sementara itu, Sekda Muhammad Idrus, berharap rencana investasi tersebut dapat direalisasikan dan tidak berhenti pada tahap pemaparan semata.

“Bukan hanya kita sampai di seremoni pemaparan, diskusi, tetapi bisa menjadi wujud nyata,” ujarnya.

Idrus juga menekankan perlunya kejelasan tahapan persiapan, mulai dari penentuan lokasi, kesiapan lahan, pengurusan perizinan hingga sosialisasi kepada masyarakat.

Teknologi HWTT yang ditawarkan CWMI menggunakan suhu dan tekanan tinggi untuk mengolah sampah. Berdasarkan pemaparan perusahaan, proses tersebut dapat menghasilkan sejumlah produk, seperti bahan bakar padat menyerupai arang, briket, serta pupuk cair dan padat.

Teknologi ini dinilai berpotensi membantu mengurangi timbunan sampah di Kolaka Utara sekaligus memanfaatkan limbah pertanian dan perkebunan, termasuk kulit kakao, menjadi produk bernilai guna.

CWMI mengklaim teknologi tersebut mampu mengurangi volume sampah hingga 80–90 persen. Namun, klaim itu masih perlu dibuktikan melalui pengujian dan kajian teknis.

Dengan nilai investasi mencapai Rp68 miliar, rencana pembangunan fasilitas ini berpotensi menjadi salah satu alternatif penanganan sampah di Kolaka Utara. Kendati demikian, realisasinya masih bergantung pada hasil kajian kelayakan, kesiapan infrastruktur, kejelasan skema pembiayaan, serta kesepakatan resmi antara pihak perusahaan dan pemerintah daerah.

Pemaparan rencana investasi itu berlangsung di Rumah Jabatan Sekda Kolut. Rencana tersebut disampaikan H. Suhaemi Fattah, dengan menggandeng PT Mikuasi Energi Lestari sebagai mitra kerja sama.