JAKARTA – Kebiasaan mengklik tautan tanpa memeriksa sumber hingga asal menyetujui penggunaan cookie dapat membuka celah bagi pelaku kejahatan siber. Pengguna internet diminta lebih berhati-hati karena ancaman digital kini tidak hanya menyasar perusahaan besar, tetapi juga pengguna sehari-hari.
Pengamat teknologi informasi Dicky Yuniarto mengatakan, ancaman siber dapat bermula dari tindakan sederhana yang sering dilakukan pengguna tanpa mempertimbangkan risikonya.
Peringatan tersebut menjadi relevan di tengah meningkatnya serangan siber di Indonesia.
Data perusahaan keamanan siber StormWall mencatat serangan distributed denial of service (DDoS) terhadap organisasi di Indonesia pada kuartal I 2026 meningkat 62 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut Dicky, kebiasaan membuka tautan secara sembarangan, menggunakan kata sandi yang mudah ditebak, hingga mengakses internet melalui jaringan yang tidak aman dapat memberikan peluang bagi pelaku melakukan serangan.
“Ada beberapa hal sederhana yang bisa kita lakukan, seperti tidak mudah mengeklik tautan yang muncul di layar smartphone maupun perangkat komputasi lainnya, karena bisa saja tautan tersebut menjadi jalan masuk bagi pelaku kejahatan siber,” kata Dicky, dilansir dari Xinhua.
Selain tautan mencurigakan, pengguna juga perlu lebih cermat ketika sebuah situs meminta persetujuan penggunaan cookie.
Cookie pada dasarnya digunakan untuk mengenali aktivitas pengguna sehingga situs dapat menyesuaikan konten maupun iklan berdasarkan pola penggunaan. Namun, informasi mengenai kebiasaan tersebut dapat menimbulkan risiko apabila dikumpulkan atau disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Dicky mengingatkan, data mengenai aktivitas pengguna bahkan dapat dimanfaatkan untuk menyusun modus penipuan yang lebih meyakinkan karena pelaku dapat menyesuaikan tipuannya dengan kebiasaan atau aktivitas korban di dunia digital.
Empat Langkah Mengurangi Risiko
Dicky menyarankan masyarakat menerapkan sejumlah langkah sederhana untuk memperkuat keamanan saat menggunakan perangkat digital.
Pertama, jangan sembarangan membuka tautan yang diterima melalui pesan, media sosial maupun aplikasi. Pengguna sebaiknya memastikan terlebih dahulu sumber dan tujuan tautan sebelum mengekliknya.
Kedua, rutin memperbarui sistem operasi, aplikasi dan perangkat lunak keamanan. Pembaruan diperlukan untuk menutup celah keamanan yang telah diketahui dan berpotensi dimanfaatkan peretas.
Ketiga, gunakan kata sandi yang kuat. Dicky menyarankan penggunaan kata sandi minimal 14 karakter yang terdiri dari kombinasi huruf besar, huruf kecil, angka dan simbol.
Keempat, jangan asal menekan tombol “Terima Semua” ketika situs meminta persetujuan cookie. Pengguna disarankan membaca pengaturan privasi dan menolak cookie yang tidak diperlukan.
Di tengah meningkatnya ancaman siber, keamanan digital tidak bisa hanya dibebankan kepada perusahaan maupun pemerintah. Pengguna juga memiliki peran penting dalam melindungi data dan perangkatnya sendiri.
Sebab, satu klik yang dilakukan tanpa kehati-hatian dapat menjadi pintu masuk bagi pelaku kejahatan siber.












