MANCANEGARA

Gelombang Panas Ekstrem Jadi “Pembunuh Senyap” di Eropa, Lebih dari 1.300 Orang Dilaporkan Meninggal

33
×

Gelombang Panas Ekstrem Jadi “Pembunuh Senyap” di Eropa, Lebih dari 1.300 Orang Dilaporkan Meninggal

Sebarkan artikel ini

Gelombang panas ekstrem yang melanda sebagian besar wilayah Eropa memicu krisis kesehatan dan cuaca yang belum pernah terjadi sebelumnya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan lebih dari 1.300 kematian tambahan sejak 21 Juni 2026 yang dikaitkan dengan suhu ekstrem, sementara lebih dari 150 juta orang di berbagai negara terdampak oleh kondisi tersebut.

Data Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), Eropa disebagai benua yang mengalami pemanasan paling cepat di dunia. Kepala Informasi Iklim WMO, John Kennedy, mengatakan fenomena ini merupakan dampak yang telah lama diprediksi akibat perubahan iklim.

“Gelombang panas seperti ini adalah hal yang kita harapkan akan terjadi dalam perubahan iklim. Dalam 50 tahun sejak gelombang panas bersejarah pada 1976, Eropa secara keseluruhan telah menghangat sekitar dua derajat Celsius. Ini adalah benua yang mengalami pemanasan tercepat dan suhu ekstrem juga meningkat,” ujar Kennedy, dilansir dari WMO.

Berdasarkan panduan Climate Watch yang diterbitkan pusat pemantauan iklim regional WMO yang dipimpin Deutscher Wetterdienst (DWD), gelombang panas yang bermula dari Semenanjung Iberia diperkirakan terus meluas ke sebagian besar Eropa Barat, Eropa Tengah, Eropa Selatan, hingga kawasan Balkan.

Visualisasi data satelit Copernicus Sentinel-3 Uni Eropa yang diperoleh pada 23 Juni 2026 pukul 09:54 UTC, tentang Suhu Permukaan Tanah di seluruh Prancis dan Spanyol utara. Nilai-nilai ini mencerminkan suhu permukaan tanah, bukan suhu udara. Meskipun keduanya secara umum berkorelasi, keduanya dapat berbeda secara signifikan.

Sejumlah negara mencatat rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah untuk bulan Juni. Di Jerman, Kota Coschen yang berada di dekat perbatasan Polandia mencatat suhu mencapai 41,7 derajat Celsius pada 28 Juni.

Sebanyak 252 stasiun cuaca memecahkan rekor suhu tertinggi, sementara 46 stasiun mencatat suhu di atas 40 derajat Celsius. DWD bahkan menyebut gelombang panas kali ini sebagai peristiwa “bersejarah”. Rekor suhu minimum malam hari juga pecah dengan suhu 29,4 derajat Celsius di wilayah Saxony Timur.

Hungaria turut mencatat rekor suhu Juni sebesar 40,7 derajat Celsius di dekat Budapest. Polandia dan Republik Ceko juga mencetak rekor suhu tertinggi baru, masing-masing mencapai sekitar 40,5 derajat Celsius.

Austria mencatat suhu 40 derajat Celsius di Kota Wina sehingga otoritas setempat mempertahankan status siaga merah. Sementara itu, Inggris memecahkan rekor suhu Juni selama tiga hari berturut-turut dengan suhu mencapai 37,3 derajat Celsius di Inggris bagian selatan.

Kantor Meteorologi Inggris untuk pertama kalinya dalam sejarah mengeluarkan peringatan merah panas ekstrem selama tiga hari berturut-turut. Belanda juga mengalami kondisi serupa.

Layanan meteorologi KNMI mengeluarkan peringatan merah yang belum pernah terjadi sebelumnya di delapan provinsi dan mencatat rekor suhu nasional baru untuk bulan Juni sebesar 39,4 derajat Celsius.

Di Denmark, suhu tertinggi sepanjang masa mencapai 37 derajat Celsius, memecahkan rekor yang telah bertahan sejak 1975. Swiss mencatat suhu 39 derajat Celsius di Basel, sementara Prancis mengalami hari terpanas dalam sejarah pada 24 Juni dengan rata-rata suhu nasional mencapai 30 derajat Celsius.

Suhu tertinggi di Prancis mencapai 43,8 derajat Celsius di Kota Pulluau. Pemerintah mengeluarkan status siaga merah untuk 58 departemen, yang menjadi rekor baru, sekaligus memperingatkan meningkatnya risiko kebakaran hutan akibat kekeringan.

Otoritas setempat juga melaporkan sekitar 40 orang meninggal akibat kecelakaan tenggelam yang diduga dipicu tingginya aktivitas masyarakat mencari tempat untuk mendinginkan diri.

Di Spanyol, suhu di berbagai wilayah melampaui 40 derajat Celsius. Kota Bilbao mencatat suhu 42,7 derajat Celsius, tertinggi sepanjang sejarah pengamatan pada bulan Juni.

WHO menyebut cuaca panas ekstrem sebagai “pembunuh senyap” karena dampaknya sering kali tidak terlihat secara langsung dan jumlah korban kerap tidak tercatat sepenuhnya. Berdasarkan estimasi global, sekitar 489 ribu kematian akibat panas terjadi setiap tahun sepanjang periode 2000 hingga 2019.

Pakar kesehatan WHO-WMO menjelaskan bahwa ancaman terbesar bukan hanya berasal dari suhu siang hari, tetapi juga suhu malam yang tetap tinggi atau dikenal sebagai “malam tropis”. Ketika suhu tidak turun di bawah 20 derajat Celsius pada malam hari, tubuh kehilangan kesempatan untuk memulihkan diri dari paparan panas sepanjang hari sehingga risiko penyakit hingga kematian meningkat.

Kelompok yang paling rentan meliputi lansia, anak-anak, ibu hamil, pekerja luar ruangan, penyandang penyakit kronis, serta masyarakat yang tidak memiliki akses terhadap tempat tinggal yang layak. Namun, WHO menegaskan bahwa dalam kondisi panas ekstrem yang berlangsung lama, siapa pun dapat terdampak.

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres sebelumnya juga memperingatkan bahwa dunia baru saja melewati sebelas tahun terpanas sepanjang sejarah. Ia menegaskan bencana iklim kini terjadi lebih sering, lebih merusak, dan menimbulkan kerugian ekonomi yang semakin besar.

Sebagai respons terhadap situasi tersebut, WMO bersama WHO terus memperkuat sistem peringatan dini, menyusun rencana aksi kesehatan terkait gelombang panas, serta membantu pemerintah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem.

Kedua organisasi juga mendorong implementasi inisiatif “Early Warnings for All” agar masyarakat menerima informasi dan peringatan lebih cepat sebelum gelombang panas berbahaya terjadi, sehingga dampak terhadap kesehatan dan keselamatan jiwa dapat diminimalkan.(*)