KOLAKA UTARA

Habiskan Rp5,6 Miliar Dana APBN, Pasar Rakyat Watumea di Kolut Terbengkalai

12
×

Habiskan Rp5,6 Miliar Dana APBN, Pasar Rakyat Watumea di Kolut Terbengkalai

Sebarkan artikel ini

KOLAKA UTARA – Pasar Rakyat Watumea di Desa Watumea, Kecamatan Tiwu, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, yang dibangun menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) senilai lebih dari Rp5,6 miliar hingga kini belum berfungsi optimal. Bangunan pasar tersebut bahkan terkesan terbengkalai selama lebih dari enam tahun.

Kondisi pasar tersebut kini tampak kurang terawat. Rumput liar tumbuh di sekitar bangunan, sementara sejumlah pintu kios terlihat rusak bahkan ada yang hilang. Letak pasar yang berada sekitar 150 meter dari jalan poros Trans Sulawesi juga dinilai menjadi salah satu penyebab minimnya aktivitas perdagangan di kawasan tersebut.

Kepala Seksi Analisis Perdagangan Dinas Perdagangan Kolaka Utara, Apdal, membenarkan bahwa pasar tersebut dibangun menggunakan dana APBN tahun 2018 dengan total anggaran mencapai Rp5.658.984.341.

“Pasar itu dibangun tahun 2018 menggunakan APBN sekitar Rp5,6 miliar,” kata Apdal, Rabu (20/5/2026).

Menurutnya, pasar sempat difungsikan pada tahun 2020 dan digunakan untuk aktivitas jual beli. Namun operasional pasar terhenti akibat pandemi COVID-19 dan hingga kini belum kembali berjalan maksimal.

“Pernah beroperasi, tetapi karena Covid-19 aktivitas kembali terhenti dan sejak saat itu tidak berfungsi lagi,” ujarnya.

Selain dampak pandemi, kata Apdal, lokasi pasar yang dianggap kurang strategis membuat pedagang enggan berjualan di tempat tersebut. Keluhan lain datang dari ukuran kios yang dinilai terlalu sempit untuk aktivitas perdagangan.

“Salah satu keluhan pedagang juga karena kiosnya sangat sempit. Mau diapakan lagi, desainnya memang dari pemerintah pusat,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, pedagang sempat mengusulkan agar dua kios digabung menjadi satu dengan cara membongkar dinding pembatas agar ruang jualan lebih luas. Namun usulan tersebut belum dapat direalisasikan.

“Tempo hari ada tawaran dari penjual untuk menyatukan dua losmen menjadi satu dengan cara menjebol dinding kios, hanya saja kami dari Dinas Perdagangan tidak berani melakukan itu,” katanya.

Minimnya aktivitas Pasar Watumea juga disebut dipengaruhi keberadaan Pasar Desa Meeto yang beroperasi dua kali dalam sepekan. Pasar tersebut dinilai lebih ramai dan lebih diminati pedagang karena jumlah pembeli lebih banyak.

“Kami sudah pernah meminta agar durasi pasar di Meeto dikurangi dari dua hari menjadi satu hari, tapi ditolak pengelola,” ungkap Apdal.

Menurut dia, jarak kedua pasar yang berdekatan membuat pedagang lebih memilih berjualan di Pasar Meeto yang dianggap lebih menguntungkan secara ekonomi.

“Ini berpengaruh juga karena pasar Desa Meeto bisa dikatakan berdekatan dengan pasar di Desa Watumea. Tentu pedagang lebih memilih berjualan di Meeto. Andai saja pengelola mau mengurangi, tentu Pasar Watumea bisa kembali berfungsi,” tambahnya.

Meski demikian, Dinas Perdagangan Kolaka Utara mengaku masih terus berupaya agar Pasar Rakyat Watumea dapat dimanfaatkan sesuai peruntukannya dan tidak terus terbengkalai.