MANCANEGARA

Hubungi Arab Saudi, Iran Bantah Terlibat dalam Pemboman Ladang Minyak Saudi

10
×

Hubungi Arab Saudi, Iran Bantah Terlibat dalam Pemboman Ladang Minyak Saudi

Sebarkan artikel ini

SIARANPUBLIK.COM-Pemerintah Iran secara tegas membantah keterlibatannya dalam serangan terhadap fasilitas minyak di Ras Tanura, Provinsi Timur Saudi Arabia, yang terjadi pada awal pekan ini. Pernyataan ini disampaikan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Iran urusan Politik, Saeed Khatibzadeh, saat diwawancarai oleh CNN.

Khatibzadeh menyatakan bahwa Teheran tidak bertanggung jawab atas pemboman ladang minyak Saudi dan telah menyampaikan posisi tersebut secara langsung kepada pihak berwenang di Riyadh. “Kami tidak bertanggung jawab atas pemboman ladang minyak Saudi dan kami telah memberitahukan hal itu kepada saudara-saudara kami di Kerajaan tersebut,” katanya.

Serangan tersebut menyebabkan kebakaran kecil dan gangguan operasi sementara di beberapa fasilitas energi, namun otoritas Saudi mengatakan tidak ada korban yang dilaporkan dan kerusakan berhasil dikendalikan dengan cepat. Hingga saat ini, pihak berwenang Saudi belum secara resmi menyatakan siapa yang bertanggung jawab atas serangan yang dilaporkan melibatkan drone tak dikenal tersebut.

Penolakan Iran ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional setelah serangkaian serangan dan respons militer antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, termasuk serangan udara bersama oleh AS-Israel pada 28 Februari yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran dan beberapa pejabat militer. Iran kemudian melakukan serangan balasan terhadap berbagai target militer AS, Israel, dan infrastruktur kawasan.

Spekulasi kini berkembang bahwa serangan terhadap fasilitas minyak Saudi bisa menjadi operasi bendera palsu (false flag) yang dimaksudkan untuk menarik negara-negara Teluk, terutama Saudi Arabia dan Qatar, lebih dalam ke dalam konflik regional yang sudah memanas.

Saudi Arabia sendiri hingga kini belum memberikan tanggapan publik atas bantahan Iran tersebut, namun insiden ini menambah kekhawatiran akan potensi perluasan konflik yang dapat berdampak pada stabilitas kawasan dan pasar energi dunia.