Pyongyang – Korea Utara kembali melontarkan kritik keras terhadap ASEAN setelah blok Asia Tenggara itu menyerukan denuklirisasi Semenanjung Korea. Adik pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, yakni Kim Yo Jong, bahkan meminta ASEAN tidak menjadi “corong bayaran” Amerika Serikat (AS) dalam menyikapi isu nuklir.
Pernyataan tersebut disampaikan Kim Yo Jong, Direktur Departemen Urusan Umum Partai Buruh Korea, sebagai respons atas hasil pertemuan tahunan ASEAN yang kembali mendesak Korea Utara menghentikan program nuklirnya serta menghidupkan kembali dialog demi menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan.
Dalam pernyataan yang disiarkan kantor berita resmi Korea Utara, KCNA, Kim menilai seruan denuklirisasi yang terus disampaikan ASEAN sudah tidak relevan dengan kondisi saat ini. Menurutnya, gagasan tersebut telah kehilangan makna baik secara konsep maupun praktik.
Ia juga menuding ASEAN mengadopsi pandangan yang sejalan dengan kebijakan Washington terhadap Korea Utara.
“ASEAN harus waspada agar tidak disalahgunakan sebagai corong bayaran untuk Amerika Serikat,” kata Kim Yo Jong.
Sebelumnya, para menteri luar negeri ASEAN dalam pertemuan regional pekan lalu menyatakan keprihatinan atas pengembangan program senjata nuklir dan rudal balistik Korea Utara. ASEAN menilai dialog tetap menjadi langkah penting untuk mengurangi ketegangan dan mewujudkan perdamaian di Semenanjung Korea.
Namun, Pyongyang menegaskan bahwa kepemilikan senjata nuklir merupakan bagian dari strategi pertahanan nasional yang tidak bisa dinegosiasikan. Posisi tersebut bahkan telah diperkuat melalui perubahan konstitusi Korea Utara sejak 2023 yang menetapkan negara itu sebagai negara bersenjata nuklir.
Kim Yo Jong sebelumnya juga pernah menyatakan bahwa program nuklir Korea Utara merupakan “garis tanpa mundur”, menegaskan negaranya tidak akan melepaskan kemampuan nuklir yang dimiliki.
Sikap tersebut menjadi kelanjutan dari kebijakan Pyongyang setelah perundingan antara Kim Jong Un dan Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, gagal mencapai kesepakatan pada 2019. Sejak pertemuan tersebut berakhir tanpa hasil, hubungan diplomatik antara Korea Utara dan Amerika Serikat terus mengalami kebuntuan.












