KOLAKA UTARA

Mapala UMKOTA Siap Reboisasi Sungai Tinukari, Sekda: Dirawat Setelah Tanam

49
×

Mapala UMKOTA Siap Reboisasi Sungai Tinukari, Sekda: Dirawat Setelah Tanam

Sebarkan artikel ini

KOLAKA UTARA- Upaya menstabilkan tepi Sungai Tinukari terus didorong di tengah meningkatnya kerentanan banjir di sejumlah wilayah. Kondisi ini mendorong Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara (MAPALA UMKOTA) untuk mengambil langkah konkret melalui program reboisasi di kawasan sempadan sungai.

Kegiatan tersebut diawali dengan rapat koordinasi dalam rangka persiapan peringatan Hari Keanekaragaman Hayati 2026 yang digelar di Lasusua (7/5). Sekda Kolaka Utara, Muhammad Idrus hadir secara langsung memberikan arahan.

Dalam arahannya, Muhammad Idrus menegaskan bahwa reboisasi menjadi langkah strategis untuk memperkuat daya dukung lingkungan, khususnya di daerah aliran sungai yang mulai kehilangan vegetasi penyangga.

“Kondisi DAS kita butuh aksi nyata. Banjir yang datang cepat saat hujan turun itu alarm. Kalau vegetasi di hulu terus tergerus, daya ikat tanah hilang. Reboisasi di sempadan Sungai Tinukari ini langkah strategis menjaga Mekongga dan Kolaka Utara,” ujarnya.

Reboisasi yang akan dilakukan menggunakan metode vegetatif di kawasan kaki Pegunungan Mekongga. Kawasan ini merupakan hulu dari Sungai Tinukari yang selama ini berperan penting dalam sistem hidrologi daerah. Namun, meningkatnya debit air saat hujan yang disertai kekeruhan menunjukkan menurunnya fungsi ekologis kawasan tersebut.

Selain berfungsi menahan erosi dan longsor, vegetasi di sempadan sungai juga berperan sebagai penyaring alami yang menjaga kualitas air serta mengurangi risiko banjir dengan menyerap limpasan air hujan.

Tinukari kami jadikan titik awal karena di sana ada ikon Sulawesi Tenggara, yakni Gunung Mekongga sebagai gunung tertinggi di Sultra. Selain itu, Tinukari juga lokasi wisata arung jeram pertama di Sulawesi Tenggara.

Pemerintah daerah pun menyatakan dukungan penuh terhadap inisiatif ini, dengan catatan bahwa kegiatan penghijauan harus dilakukan secara berkelanjutan.

“Pemda Kolut siap dukung penuh. Tapi kuncinya keberlanjutan. Jangan berhenti setelah tanam. Harus ada yang merawat dan memantau hingga pohon benar-benar menjadi benteng alami,” tutupnya. (rus)