MUNANASIONAL

Seni Cadas Berusia 67.800 Tahun Ditemukan di Pulau Muna, Lebih Tua dari Maros–Pangkep

52
×

Seni Cadas Berusia 67.800 Tahun Ditemukan di Pulau Muna, Lebih Tua dari Maros–Pangkep

Sebarkan artikel ini

Jakarta,SiaranPublik.com- Indonesia kembali mencatatkan penemuan penting dalam sejarah peradaban manusia dunia. Tim kolaborasi internasional dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Griffith University dan Southern Cross University (Australia) menemukan seni cadas berupa cap tangan manusia berusia setidaknya 67.800 tahun di Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.

Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional Nature dengan judul “Rock art from at least 67,800 years ago in Sulawesi”. Penemuan tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu pusat terpenting dalam sejarah awal seni simbolik dan penjelajahan laut manusia modern.

Peneliti Pusat Riset Arkeometri BRIN, Adhi Agus Oktaviana, mengungkapkan bahwa usia seni cadas di Pulau Muna ini lebih tua sekitar 16,6 ribu tahun dibandingkan seni cadas Maros–Pangkep, Sulawesi Selatan. Bahkan, temuan ini juga lebih tua sekitar 1,1 ribu tahun dibandingkan cap tangan dari Spanyol yang sebelumnya dikaitkan dengan Neanderthal dan dianggap sebagai seni gua tertua di dunia.

Untuk menentukan usia seni cadas tersebut, tim peneliti menerapkan teknik penanggalan laser-ablation uranium-series (LA–U-series) pada lapisan kalsit mikroskopis yang menutupi lukisan gua. Hasil analisis menunjukkan umur lapisan kalsit mencapai 71,6 ± 3,8 ribu tahun, sehingga memberikan batas usia minimum sebesar 67,8 ribu tahun bagi cap tangan di Leang Metanduno.

“Penemuan ini merupakan seni cadas tertua yang pernah tertanggal secara andal dan menjadi bukti langsung bahwa manusia modern telah menyeberangi laut secara sengaja sejak hampir 70.000 tahun lalu,” ujar Adhi.

Temuan tersebut juga memperkuat pandangan bahwa wilayah Wallacea bukan sekadar jalur migrasi menuju Australia, melainkan ruang hidup utama bagi manusia modern awal. “Sangat mungkin pembuat lukisan ini merupakan bagian dari populasi yang kemudian menyebar ke timur hingga mencapai Australia,” tambah Adhi.

Penelitian ini sekaligus mendukung model kronologi panjang yang menyatakan manusia telah mencapai daratan Sahul (Australia–Papua) setidaknya sekitar 65.000 tahun lalu. “Penemuan ini memberikan dukungan kuat bahwa leluhur masyarakat Aborigin Australia telah berada di Sahul pada atau sebelum 65.000 tahun yang lalu,” jelasnya.

Profesor Renaud Joannes-Boyau menambahkan, penanggalan seni cadas ini menjadi bukti paling awal keberadaan manusia modern di jalur migrasi utara menuju Sahul, yang melibatkan penjelajahan laut antara Kalimantan dan Papua—wilayah yang hingga kini masih relatif minim eksplorasi arkeologis.

Sementara itu, Prof. Maxime Aubert menyatakan bahwa Sulawesi merupakan salah satu pusat budaya artistik tertua dan paling berkelanjutan di dunia, dengan akar yang berasal dari fase paling awal hunian manusia di kawasan tersebut.

Dari sisi artistik, Prof. Adam Brumm dari Australian Research Centre for Human Evolution (ARCHE), Griffith University, menjelaskan bahwa cap tangan di Pulau Muna memiliki ciri unik secara global, yakni modifikasi jari yang dipersempit hingga menyerupai cakar.

“Makna simboliknya masih spekulatif, namun bisa mencerminkan gagasan hubungan erat antara manusia dan hewan, sebagaimana terlihat dalam seni lukis awal Sulawesi yang menampilkan figur setengah manusia dan setengah hewan,” jelasnya.

Kepala Pusat Riset Arkeometri BRIN, Sofwan Noewidi, menilai temuan ini sebagai tonggak penting dalam pengembangan arkeologi berbasis sains material di Indonesia. Menurutnya, penerapan teknologi penanggalan uranium-series berbasis laser ablation memungkinkan penentuan kronologi budaya secara jauh lebih presisi.

“Dengan menganalisis langsung lapisan kalsit yang menutupi pigmen seni cadas, kami memperoleh batas usia minimum yang andal bagi aktivitas simbolik manusia modern,” kata Sofwan.

Seiring ditemukannya sebaran situs seni cadas Pleistosen di kawasan karst Sulawesi, para peneliti menegaskan pentingnya perlindungan warisan budaya tak tergantikan tersebut. Mereka menyerukan agar kawasan karst yang mengandung situs seni cadas purba dijadikan bagian integral dalam perencanaan tata ruang dan kebijakan pengelolaan sumber daya alam.

Penelitian ini melibatkan berbagai institusi, antara lain Kementerian Kebudayaan, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVIII dan XIX, Universitas Hasanuddin, Universitas Halu Oleo, serta Institut Teknologi Bandung (ITB).