SiaranPublik.com-Ketegangan di kawasan Teluk memanas setelah laporan dari pejabat misi Angkatan Laut Uni Eropa menyebut Garda Revolusi Iran (IRGC) mengirimkan pesan radio kepada kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz bahwa “tidak ada kapal yang diperbolehkan lewat”. Informasi tersebut pertama kali dilaporkan oleh Reuters.
Peringatan itu muncul setelah meningkatnya ketegangan pasca serangan militer oleh Amerika Serikat dan Israel di kawasan tersebut. Sejumlah laporan bisnis dan perdagangan yang dikutip Fox Business menyebutkan telah terjadi pembatasan navigasi di selat strategis itu.
Beberapa perusahaan pelayaran dilaporkan menangguhkan sementara pengiriman mereka demi alasan keselamatan. Citra satelit serta keterangan pelaku industri, kembali dilaporkan Reuters, menunjukkan sejumlah kapal memilih menunggu atau membelok dari jalur pelayaran utama karena situasi dinilai tidak aman.
Namun demikian, hingga kini Iran belum secara resmi mengumumkan penutupan secara hukum atas Selat Hormuz. Media Türkiye Today melaporkan bahwa pernyataan “tidak diperbolehkan lewat” masih sebatas komunikasi radio dan interpretasi pihak luar, bukan keputusan resmi pemerintah.
Laporan lain dari NST Online menyebut pembatasan tersebut lebih disebabkan faktor keamanan akibat konflik, bukan kebijakan legislatif formal untuk menutup jalur pelayaran internasional itu.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global dan sebagian besar pengiriman gas alam cair (LNG) melintasi perairan sempit tersebut setiap hari.
Gangguan signifikan di kawasan ini berpotensi memicu lonjakan harga energi dunia serta mengganggu rantai pasok global.
Analis menilai, penutupan total Selat Hormuz akan menjadi langkah eskalasi ekstrem dengan dampak ekonomi internasional yang sangat besar, dan hingga kini belum ada keputusan resmi yang mengarah ke langkah tersebut.






