KOLAKA UTARA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat Kabupaten Kolaka Utara untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gempa bumi. Peringatan itu muncul setelah BMKG mengungkap bahwa wilayah tersebut dikelilingi sedikitnya 13 sesar aktif yang masih berpotensi memicu aktivitas kegempaan.
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, mengatakan secara geologi Kolaka Utara berada di kawasan yang memiliki tingkat aktivitas gempa cukup tinggi. Wilayah ini diapit oleh Sesar Lawanopo di bagian utara dan Sesar Kolaka Segmen North di bagian selatan, serta sejumlah sesar aktif lokal lainnya.
Data BMKG menunjukkan ancaman tersebut bukan sekadar potensi. Sejak 1964 hingga 2026, sedikitnya 347 kejadian gempa bumi telah terekam di wilayah Kolaka Utara. Dalam tujuh tahun terakhir jumlahnya mencapai 268 kejadian, sementara sepanjang tahun 2026 hingga awal Agustus telah termonitor 16 gempa.
“Sebagian besar memang tidak dirasakan masyarakat, tetapi seluruhnya terekam oleh sensor BMKG,” ujar Teguh saat membuka Sekolah Lapang Gempa Bumi (SLG) Tahun 2026 yang digelar BMKG melalui Stasiun Geofisika Kendari di Lasusua, Kamis (6/8/2026).
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap sepele gempa yang hanya terasa sesaat. Menurutnya, gempa kecil dapat menjadi gempa pendahuluan (foreshock) sebelum terjadi gempa utama (mainshock) yang lebih besar.
Sebagai contoh, Teguh mengungkap rangkaian gempa di Kabupaten Kolaka Timur pada Januari 2025. Gempa yang terjadi pada 24 Januari merupakan foreshock, sebelum akhirnya disusul mainshock pada 29 Januari dengan magnitudo dan dampak yang lebih besar.
“Gempa tidak berbicara pada satu titik, tetapi pada suatu zona. Walaupun pusat gempa berada di Kolaka Timur, getarannya dapat dirasakan hingga Kolaka Utara. Karena itu kesiapsiagaan harus menjadi budaya bersama,” katanya.
Untuk memperkuat sistem peringatan dini, BMKG telah memasang 19 sensor di wilayah kerja Stasiun Geofisika Kendari. Selain itu, BPBD Kabupaten Kolaka Utara juga telah memiliki Warning Receiver System (WRS) yang mampu menerima informasi resmi BMKG dalam waktu kurang dari tiga menit setelah gempa terjadi.
Meski demikian, Teguh menegaskan bahwa teknologi hanyalah alat pendukung. Keselamatan masyarakat tetap bergantung pada kecepatan respons pemerintah daerah melalui BPBD serta kesiapsiagaan warga saat menghadapi bencana.
“BMKG dapat memberikan informasi dengan sangat cepat, tetapi keberhasilan penyelamatan bergantung pada tindakan pemerintah daerah melalui BPBD dan kesiapsiagaan masyarakat. Target kita adalah zero victim atau tidak ada korban jiwa,” tegasnya.












