KOLAKA UTARASULAWESI TENGGARA

Harapan Itu Bernama Kemah Rakyat

97
×

Harapan Itu Bernama Kemah Rakyat

Sebarkan artikel ini

PAGI masih muda ketika Desa Woitombo, Kecamatan Lambai, mulai bergerak. Embun belum sepenuhnya menguap dari rerumputan, tetapi halaman lokasi perkemahan telah dipenuhi orang-orang yang bekerja tanpa banyak kata. Ada yang mengangkat kursi, memasang spanduk, merapikan tenda, hingga menyambut tamu yang berdatangan.

Tak ada aba-aba panjang. Setiap orang seolah sudah memahami perannya.

Di desa kecil di pesisir Kolaka Utara itu, Jumat (7/8/2026), yang dibuka bukan sekadar sebuah perkemahan. Yang sedang dirawat adalah harapan—harapan bahwa anak-anak muda memiliki ruang untuk bertumbuh, belajar, saling mengenal, dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan yang terus berubah.

Mengusung tema “2026 Tahunnya Anak Muda Kolaka Utara”, kegiatan ini kembali mempertemukan banyak orang dalam satu ruang. Pemerintah daerah, perusahaan, akademisi, komunitas, mahasiswa, pelajar, hingga masyarakat duduk berdampingan. Perbedaan profesi dan latar belakang tidak lagi menjadi sekat. Yang tersisa hanyalah keinginan yang sama: memastikan generasi muda memiliki bekal untuk membangun daerahnya sendiri.

Bagi Kepala Desa Woitombo, Muhammad Akbar, Kemah Rakyat tidak pernah sekadar menjadi agenda tahunan. Ia melihatnya sebagai gerakan yang lahir dari keyakinan sederhana bahwa perubahan tidak harus selalu dimulai dari kota-kota besar.

Kadang-kadang, perubahan justru tumbuh dari sebuah desa yang percaya kepada anak mudanya.

Keyakinan itu memiliki jejak panjang. Saat pandemi Covid-19 membatasi ruang pertemuan, lahirlah Kemah Mini Literasi. Kegiatannya sederhana. Pesertanya pun terbatas. Namun dari ruang kecil itulah benih-benih gerakan mulai tumbuh.

Setiap tahun, ruang belajar itu berkembang. Jika pada awalnya banyak diisi kalangan profesional dan sarjana, kini estafet penyelenggaraan telah berpindah ke tangan mahasiswa. Bahkan pelajar SMA mulai dilibatkan sebagai bagian dari penggerak kegiatan.

Regenerasi tidak lagi menjadi wacana, melainkan praktik yang terus dijalankan.

Bagi Akbar, menjadi muda tidak ditentukan oleh angka usia.

Anak muda, katanya, adalah mereka yang tidak pernah berhenti belajar, terus berkarya, dan ingin memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Barangkali itulah alasan Kemah Rakyat tetap bertahan meski tidak selalu berjalan di jalan yang mudah.

Tiga hari menjelang pembukaan, kepastian anggaran bahkan belum sepenuhnya didapatkan. Namun tidak ada pembicaraan tentang membatalkan kegiatan. Panitia tetap bekerja. Warga tetap bergotong royong. Persiapan terus dilakukan dengan keyakinan bahwa setiap persoalan selalu menemukan jalan ketika banyak orang bergerak bersama.

Semangat itu terasa hampir di setiap sudut lokasi. Gerbang masuk dibangun bersama, tenda didirikan bersama, hingga penataan kawasan dilakukan secara swadaya.

Gotong royong bukan sekadar slogan yang dipasang di baliho. Ia hidup dalam tindakan sehari-hari.

Semangat itulah yang menarik perhatian Vice President PT Riota Jaya Lestari, Ir. Misdar. Menurutnya, dunia usaha membutuhkan lebih dari sekadar tenaga kerja yang terampil. Karakter, disiplin, kemauan belajar, dan kemampuan bekerja sama menjadi bekal yang sama pentingnya.

Karena itu, ruang pembinaan seperti Kemah Rakyat dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi daerah. Bukan hanya mencetak individu yang kompeten, tetapi juga membangun budaya belajar yang akan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Apresiasi serupa disampaikan Sekretaris Daerah Kolaka Utara, H. Muhammad Idrus. Di matanya, kekuatan terbesar Kemah Rakyat justru terletak pada kebersamaan masyarakat Woitombo yang masih terpelihara.

Dari gerbang sederhana hingga penataan lokasi kegiatan, semuanya menjadi penanda bahwa gotong royong masih hidup sebagai nilai yang dijaga.

Nilai itulah yang, menurutnya, akan menjadi modal penting ketika Kolaka Utara memasuki babak baru pembangunan.

Di hadapan para peserta, ia mengingatkan bahwa daerah ini sedang bersiap menyambut berbagai peluang investasi, termasuk rencana pembangunan kawasan industri di Tolala yang diproyeksikan menyerap belasan hingga puluhan ribu tenaga kerja.

Namun peluang tidak pernah otomatis menjadi milik semua orang.

Ia hanya akan datang kepada mereka yang telah menyiapkan diri melalui pengetahuan, keterampilan, karakter, dan kemauan untuk terus belajar.

Pesan itu kemudian dilengkapi dengan ajakan agar generasi muda tidak melupakan lingkungan. Menanam bambu di bantaran sungai, memulihkan kawasan mangrove, hingga menjaga alam dipandang sebagai bagian dari tanggung jawab pembangunan yang berkelanjutan.

Selama tiga hari pelaksanaan, Kemah Rakyat menghadirkan beragam kegiatan. Ada diskusi publik, literasi, pengembangan kepemudaan, seni budaya, ekonomi kreatif, hingga aksi peduli lingkungan.

Namun sesungguhnya, yang sedang dibangun bukan hanya rangkaian acara.

Yang sedang dibangun adalah keyakinan bahwa masa depan tidak pernah lahir begitu saja. Ia tumbuh dari orang-orang yang memilih tetap belajar ketika keadaan sulit, tetap bergerak ketika jalan belum terbuka, dan tetap percaya bahwa perubahan bisa dimulai dari tempat yang paling sederhana.

Dari sebuah desa.

Dari tangan anak-anak muda.

Dari mereka yang percaya bahwa harapan selalu menemukan rumahnya.

Di Woitombo, rumah itu bernama Kemah Rakyat.