Langkah Saifuddin HM Abd Muin Saideng mungkin tidak sempurna. Penglihatannya pun telah lama hilang. Namun tekad imam masjid asal Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan itu, tidak pernah padam untuk sampai ke Tanah Suci.
Di usianya yang tak lagi muda, Saifuddin akhirnya menapakkan kaki di Makkah sebagai jemaah haji musim 2026. Perjalanan panjang yang ia tempuh bukan hanya soal jarak ribuan kilometer dari kampung halaman menuju Arab Saudi, tetapi juga perjuangan selama puluhan tahun menahan harap dan mengumpulkan biaya sedikit demi sedikit.
Selama kurang lebih 20 tahun, Saifuddin menabung demi satu impian: berhaji.
Di kampungnya, Saifuddin dikenal sebagai sosok sederhana yang tetap istiqamah menjadi imam masjid meski hidup dalam keterbatasan sebagai tunanetra. Setiap hari, ia tetap memimpin salat dan mengabdikan diri untuk masyarakat.
Tak disangka, kisah hidupnya menyentuh hati otoritas Arab Saudi.
Saat berada di Hotel 608 Al-Hadaiq Al-Raqiah, Makkah, Rabu (13/5/2026), Saifuddin mendapat penghormatan khusus dari perwakilan Pemerintah Arab Saudi. Mereka datang langsung menemui dirinya dan menyerahkan hadiah istimewa.
Bukan hanya itu, Pemerintah Arab Saudi bahkan berencana membangun masjid dan wakaf atas nama Saifuddin sebagai bentuk penghargaan atas perjuangannya.
Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) asal Sinjai, Faried Wajedi, mengatakan penghormatan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi kepada Saifuddin yang tetap teguh beribadah di tengah keterbatasan fisik.
“Mereka ingin membangun masjid dan wakaf atas nama jemaah sebagai bentuk apresiasi dan penghormatan,” ujar Faried dikutip dari Herald.id.
Faried yang juga menjabat Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sinjai ikut mendampingi pertemuan tersebut. Ia menjadi penerjemah saat perwakilan Pemerintah Arab Saudi menyampaikan maksud kedatangan mereka.
Menurut Faried, awalnya otoritas setempat mencari dua jemaah tertua, masing-masing laki-laki dan perempuan, untuk diberikan penghormatan khusus. Namun kisah Saifuddin menjadi perhatian tersendiri.
“Ini bentuk penghormatan luar biasa,” katanya.
Di tengah jutaan jemaah dari berbagai negara yang datang ke Tanah Suci setiap tahun, kisah Saifuddin menjadi pengingat bahwa keterbatasan tak pernah mampu menghalangi seseorang untuk meraih impian dan mengabdi kepada Tuhan.(*)












