MANCANEGARA

AS-Iran Gencatan Senjata, Warga Iran Turun ke Jalan Rayakan Kemenangan

15
×

AS-Iran Gencatan Senjata, Warga Iran Turun ke Jalan Rayakan Kemenangan

Sebarkan artikel ini

SIARANPUBLIK.COM-Amerika Serikat dan Iran dilaporkan menyepakati gencatan senjata sementara di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah. Presiden AS, Donald Trump, menyebut kesepakatan tersebut sebagai “kemenangan total dan lengkap” bagi Amerika Serikat.

Dilansir dari The Washington Post, gencatan senjata ini dikabarkan berlangsung selama dua minggu dan membuka ruang bagi negosiasi lebih lanjut antara kedua negara, termasuk isu pembukaan Selat Hormuz.

Namun di sisi lain, Pemerintah Iran dalam pernyataan resminya mengklaim bahwa Washington telah dipaksa menerima proposal 10 poin dari Teheran sebagai dasar pembicaraan damai, bahkan menyebutnya sebagai “kekalahan bersejarah” bagi AS.

Isi Proposal 10 Poin Iran

Proposal tersebut mencakup sejumlah tuntutan strategis, seperti komitmen AS untuk menghentikan agresi, pengakuan hak pengayaan nuklir Iran, serta pencabutan seluruh sanksi ekonomi baik utama maupun sekunder.

Selain itu, Iran juga menuntut pengakhiran semua resolusi Dewan Keamanan PBB dan keputusan International Atomic Energy Agency terkait Iran, serta pembayaran kompensasi perang dan penarikan pasukan AS dari kawasan.

Poin lainnya mencakup penghentian konflik di berbagai front, termasuk Lebanon, serta mempertahankan kontrol Iran atas Selat Hormuz.

Warga Iran Rayakan “Kemenangan”

Di dalam negeri Iran, The Wall Street Journal melaporkan suasana perayaan terjadi di sejumlah kota besar seperti Tehran, di mana ribuan warga turun ke jalan membawa bendera nasional.

Perayaan tersebut mencerminkan narasi resmi pemerintah Iran yang menganggap gencatan senjata sebagai kemenangan atas tekanan Amerika Serikat.

Namun, sebagian kelompok oposisi di Iran dilaporkan merasa kecewa karena kesepakatan tersebut tidak membawa perubahan politik domestik.

Meski disambut positif oleh komunitas internasional, gencatan senjata ini dinilai masih bersifat sementara dan rentan gagal jika negosiasi lanjutan tidak mencapai kesepakatan konkret.

Perbedaan klaim antara kedua negara, AS yang menyebut kemenangan, dan Iran yang merasa berhasil memaksakan tuntutannya dengan menunjukkan bahwa proses menuju perdamaian permanen masih penuh tantangan.