KOLAKA UTARA, SIARAN PUBLIK — Langit-langit rumah itu menganga. Balok kayu di atas kepala menggantung tanpa daya, nyaris patah. Dari sela atap, air hujan rutin menetes perlahan, membasahi lantai semen yang langsung menempel ke tanah basah.
Bau lembap bercampur aroma cat usang memenuhi ruangan yang dindingnya mulai retak. Di rumah sederhana inilah para tenaga kesehatan Puskesmas Tolala berteduh. Jika bisa disebut berteduh.
“Kalau hujan, kami mengungsi ke sebelah, ke ruang puskesmas, karena air masuk dari atas,” ujar seorang perawat kepada Siaran Publik.
Puskesmas Tolala memiliki dua bangunan rumah dinas tenaga kesehatan kumuh yang terdiri dari tiga ruang tempat tinggal. Kondisinya jauh dari layak. Kayu-kayu lapuk, dinding penuh jamur, dan lantai yang sejajar dengan permukaan tanah membuat air hujan mudah merembes ke dalam.
Tampak pula atap bangunan tersebut harus ditindih menggunakan sepotong kayu balok kecil agar tidak melayang saat diterpa angin. Di sanalah para nakes tinggal dan mengabdi.
Tak jauh dari rumah dinas, berdiri bangunan utama Puskesmas Tolala. Dari luar tampak kokoh. Tapi memasuki bagian dalam, kerusakan langsung menyambut. Plafon ruang jebol, dinding berderak, dan banyak ruang tanpa kipas angin, panas.
Sejumlah WC ditunjukkan tersumbat, termasuk di kamar bersalin. Udara pengap tak tertahankan dan beberapa pasien tampak membawa kipas sendiri dari rumah mereka.
Kondisi ini bukan rahasia. Wakil Bupati Kolaka Utara, H. Jumarding, menyaksikan langsung kerusakan tersebut saat melakukan inspeksi mendadak. Ia hanya bisa menggelengkan kepala melihat kenyataan di lapangan.
“Saya lihat sendiri plafonnya jebol, rumah dinas nakes juga sangat memprihatinkan. Bangunan seperti ini tidak bisa dibiarkan terus. Karena puskesmas ini secara tidak langsung, mencerminkan wajah Kolaka Utara,” ujarnya.
Menurutnya, pemerintah daerah harus mengevaluasi alokasi anggaran kesehatan dan memprioritaskan fasilitas di wilayah terluar seperti Tolala. Salah satu temuan lain, kata dia, adalah keberadaan ambulans yang terbatas. Pihak puskesmas mengungkapkan jika sarana roda empat miliknya telah lama mendekam di bengkel karena rusak dan belum diperbaiki karena keterbatasan anggaran.
“Lebih baik kendaraan itu dikembalikan ke dinas jika memang tidak mampu ditangani daripada sudah tersimpan sudah lama di bengkel. Puskesmas ini kan tempat pelayanan, bukan tempat untuk mencari uang,” kata Jumarding.
Total Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kolaka Utara tahun 2025 mencapai Rp1,12 triliun. Dari jumlah itu, Rp226,67 miliar dialokasikan untuk sektor kesehatan. Secara nominal, anggaran tersebut cukup untuk memperbaiki banyak fasilitas.
Nama Puskesmas Tolala juga diharapkan terpampang dalam pengalokasian anggaran tersebut untuk perbaikan, rehap atau pembangunan gedung baru.
Namun realitas di lapangan jauh dari harapan. Puskesmas di wilayah pesisir itu masih kekurangan fasilitas, bangunannya rusak, dan pelayanannya terhambat.
Di ruang-ruang rapat, grafik dan indikator kesehatan terus dipresentasikan. Program-program dirancang dan diumumkan ke publik. Tapi di Tolala, suara dari perbatasan Sultra itu tenggelam bersama genangan air hujan yang tak pernah berhenti merembes.
Para nakes di sana tak banyak menuntut. Mereka tidak turun ke jalan atau menggelar aksi. Mereka hanya bekerja dalam diam, menunaikan tugas negara.
Mereka hanya berharap rumah tinggal mereka tidak lagi lapuk, ruang rawat tidak lagi panas, dan pasien tak perlu membawa kipas angin sendiri demi kenyamanannya dirawat di bangunan pemerintah.(rus)