KOLAKA UTARAPENDIDIKAN

Dari Tenda ke Panggung Ide: Kemah Rakyat 2025 Hidupkan Literasi di Kolaka Utara

512
×

Dari Tenda ke Panggung Ide: Kemah Rakyat 2025 Hidupkan Literasi di Kolaka Utara

Sebarkan artikel ini

-Kemah Rakyat 2025 Sukses Digelar

KOLAKA UTARA, SIARAN PUBLIK – Suasana Desa Woitombo, Kecamatan Lambai, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, tampak berbeda jelang peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke 80 tahun. Tenda-tenda berwarna-warni berdiri di sekitar area desa, dihiasi gemerlap lampu malam dan semarak aktivitas anak muda.

Inilah Kemah Rakyat 2025, sebuah perayaan kemerdekaan yang tak sekadar upacara bendera, melainkan ajang ekspresi, literasi, dan kreativitas. Selama tiga hari, mulai 15 hingga 17 Agustus, desa kecil di Kecamatan Lambai itu menjadi magnet baru bagi pegiat literasi, komunitas seni, dan para pelajar.

Agenda yang digagas oleh Pemerintah Desa Woitombo bersama komunitas literasi ini menawarkan ragam kegiatan, mulai dari kelas menulis untuk pelajar SMA, sharing komunitas lintas Sulawesi Tenggara hingga Sulawesi Selatan, kelas parenting bagi warga desa, sampai pentas seni yang menghidupkan malam puncak.

Bunda Literasi Kolaka Utara, Andi Nurhayani Nurrahman

Bunda Literasi Kolaka Utara, Andi Nurhayani Nurrahman, membuka kegiatan dengan semangat. Ia melihat Kemah Rakyat sebagai ruang belajar yang hidup, bukan sekadar duduk di kelas dan membaca buku.

“Ini kegiatan yang bisa mengubah mindset kita tentang literasi. Literasi itu bukan hanya membaca, tapi juga mengekspresikan potensi diri. Saya berharap kegiatan semacam ini bisa digelar lebih besar, bahkan di setiap desa di Kolut,” ungkapnya.

Kepala Desa Woitombo, Muhammad Akbar

Pernyataan itu seakan menegaskan bahwa literasi kini bukan lagi wacana, melainkan praktik nyata yang bisa menyentuh kehidupan sehari-hari.

Bagi Kepala Desa Woitombo, Muhammad Akbar, Kemah Rakyat punya makna lebih dalam. Ia menilai kegiatan ini adalah wadah bagi anak muda Kolaka Utara untuk mencari arah, di tengah problematika pelajar dan remaja yang kerap terjebak dalam persoalan sosial.

“Momen ini adalah ruang bagi pemuda untuk menuangkan ide dan gagasannya dalam literasi, seni, maupun budaya. Anak-anak muda butuh ruang sehat untuk berekspresi, bukan sekadar disalahkan ketika mereka salah arah,” tegasnya.

Kemah Rakyat tersebut juga mendapat dukungan penuh dari sektor swasta. PT Riota Jaya Lestari, perusahaan yang beroperasi di Kolaka Utara, hadir sebagai sponsor utama. “Ini wujud kecintaan kami terhadap pendidikan. Literasi dan pendidikan adalah prioritas,” jelas Muhammad Awaluddin, Humas PT Riota.

Dikatakan, pihaknya percaya bahwa kemajuan suatu daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kualitas sumber daya manusianya. Melalui dukungan penuh Divisi Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat, PT Riota pada sekolah menulis di Kemah Rakyat tersebut ingin berkontribusi menyediakan ruang bagi pelajar dan masyarakat untuk mengasah kemampuan literasi memperluas wawasan dan menuangkan ide.

Keterlibatan perusahaan menjadi bukti bahwa literasi bukan hanya urusan pemerintah atau komunitas, tapi juga tanggung jawab bersama semua elemen masyarakat. Tak kalah menarik, lokasi kegiatan dipusatkan di Woitombo, desa yang dikenal memiliki perpustakaan desa terbesar di Indonesia Timur.

Tak heran jika desa ini kemudian menjelma menjadi laboratorium literasi, tempat ide dan mimpi anak-anak muda dirajut menjadi karya nyata. Woitombo menghadirkan perayaan dengan wajah baru, literasi, seni, dan ruang ekspresi.

Kemah Rakyat 2025 menjadi bukti bahwa kemerdekaan bisa dirayakan tidak hanya dengan semangat nostalgia, tetapi juga dengan menumbuhkan harapan dan karya generasi muda. (rus)