MANCANEGARA

Inilah Praka Farizal R, Prajurit TNI yang Gugur Akibat Serangan Israel di Lebanon Selatan

26
×

Inilah Praka Farizal R, Prajurit TNI yang Gugur Akibat Serangan Israel di Lebanon Selatan

Sebarkan artikel ini

SIARANPUBLIK.COM- Kabar duka datang dari misi perdamaian dunia. Seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI), Praka Farizal Rhomadhon, dilaporkan gugur saat menjalankan tugas sebagai pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon selatan.

Praka Farizal merupakan bagian dari Satuan Tugas Kontingen Garuda (Konga) yang bertugas di bawah misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Ia meninggal dunia setelah sebuah proyektil menghantam pos penjagaan UNIFIL di dekat Desa Adchit Al Qusayr pada Minggu (29/3/2026) malam waktu setempat.

Dalam pernyataan resminya, pihak UNIFIL menyebutkan bahwa ledakan tersebut menewaskan satu personel penjaga perdamaian di lokasi kejadian. Selain itu, beberapa prajurit lainnya turut menjadi korban, dengan rincian satu orang mengalami luka berat dan dua lainnya luka ringan.

Praka Farizal Rhomadhon diketahui lahir di Kulon Progo pada 3 Januari 1998. Ia merupakan prajurit dari satuan Yonif 113/JS Brigif 25/Siwah Kodam Iskandar Muda, dengan jabatan terakhir sebagai Taban Provost. Ia gugur di usia 28 tahun saat menjalankan misi perdamaian di wilayah konflik.

Foto: Istimewa

Almarhum meninggalkan seorang istri, Fafa Nur Azila, dan seorang putri yang masih berusia dua tahun. Keluarganya tinggal di Asrama Militer Yonif 113/JS di Kabupaten Bireuen, Aceh. Hingga saat ini, pihak TNI masih berkoordinasi dengan keluarga terkait proses pemulangan jenazah dan rencana pemakaman.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya prajurit tersebut. Selain itu, pemerintah juga mengecam keras serangan yang menyebabkan jatuhnya korban dari kontingen Indonesia.

Indonesia mendorong dilakukannya penyelidikan menyeluruh dan transparan atas insiden tersebut, serta menegaskan pentingnya perlindungan bagi seluruh personel penjaga perdamaian yang bertugas di bawah mandat PBB.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, turut mengutuk serangan tersebut dan menyerukan semua pihak untuk mematuhi hukum internasional, khususnya dalam menjamin keselamatan personel dan fasilitas PBB.

Situasi keamanan di wilayah Lebanon selatan hingga kini masih dalam pemantauan ketat, sementara upaya diplomasi terus didorong guna mencegah eskalasi konflik lebih lanjut.