Riyadh, SiaranPublik.com– Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat setelah muncul tudingan bahwa Israel berada di balik serangan drone terhadap fasilitas milik Saudi Aramco di kawasan Ras Tanura, Arab Saudi.
Dugaan tersebut pertama kali disampaikan media semi-resmi Iran, Tasnim News Agency, yang mengutip sumber militer anonim. Dalam laporannya, Tasnim menyebut serangan itu sebagai operasi “false flag” yang diduga dilakukan Israel untuk memicu eskalasi konflik regional dan mengalihkan tudingan kepada Iran.
Klaim tersebut kemudian dikutip oleh kantor berita Rusia TASS. Namun hingga kini, belum ada bukti independen yang menguatkan tuduhan tersebut.
Media internasional arus utama seperti Reuters melaporkan bahwa fasilitas Aramco menjadi target serangan drone dan sistem pertahanan udara Saudi berhasil melakukan pencegatan. Otoritas Saudi menyatakan situasi terkendali dan tidak memberikan rincian mengenai pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Serangan itu disebut menggunakan drone tipe loitering munition yang memiliki kemiripan dengan seri Shahed-136 dan Shahed-131, yang selama ini diasosiasikan dengan Iran. Di sisi lain, analis pertahanan menilai konsep drone satu arah berbiaya rendah juga dikembangkan sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat melalui sistem Low-cost Uncrewed Combat Attack System (LUCAS).
Meski memiliki kemiripan desain, tidak ada bukti yang menunjukkan keterlibatan sistem tersebut dalam insiden di Ras Tanura.
Di tengah polemik itu, muncul pula klaim bahwa Arab Saudi dan Qatar menangkap agen yang diduga bekerja untuk dinas intelijen Israel, Mossad. Klaim ini disampaikan oleh komentator Amerika Tucker Carlson dan kemudian dimuat oleh sejumlah media seperti Middle East Eye dan Press TV.
Para agen tersebut disebut diduga merencanakan aksi sabotase atau pemboman di negara-negara Teluk. Namun hingga berita ini diturunkan, tidak ada pernyataan resmi dari pemerintah Arab Saudi maupun Qatar yang mengonfirmasi penangkapan tersebut.
Media internasional besar juga belum memverifikasi klaim itu secara independen.
Pengamat menilai rangkaian tudingan ini mencerminkan meningkatnya perang informasi di tengah eskalasi ketegangan Iran–Israel dan dinamika hubungan Israel dengan negara-negara Teluk.
Serangan terhadap infrastruktur energi Saudi memiliki implikasi global karena berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan dan harga minyak dunia. Sementara itu, tudingan operasi intelijen lintas negara berisiko memperuncing ketegangan diplomatik apabila tidak disertai bukti yang dapat diverifikasi.
Hingga saat ini, tuduhan bahwa Israel berada di balik serangan kilang Aramco maupun klaim penangkapan agen Mossad di Saudi dan Qatar masih berada dalam ranah pernyataan sepihak yang belum terkonfirmasi secara resmi.






