Otoritas Manajemen dan Pengurangan Risiko Bencana Nasional Nepal melaporkan sebanyak 781 jenazah telah ditemukan dari sejumlah wilayah yang terdampak banjir bandang. Hingga Minggu (30/8) pukul 18.00 waktu setempat, sebanyak 2.502 orang lainnya masih dinyatakan hilang.
Dewan Pariwisata Nepal juga melaporkan 591 warga negara asing masih belum dapat dihubungi. Sementara itu, 289 warga negara asing berhasil diselamatkan dan lima lainnya telah dapat dihubungi, yakni tiga warga negara Spanyol, satu warga Amerika Serikat, dan satu warga Belgia.
Di tengah upaya pencarian korban, pakar mengungkap bahwa longsoran es dan batu yang berasal dari gletser di wilayah pegunungan Nepal diduga menjadi pemicu bencana banjir bandang mematikan yang menerjang Pelabuhan Gyirong di Daerah Otonom Xizang, Tiongkok barat daya, pada 26 Agustus.
Dilaporkan kantor berita Xinhu, otoritas setempat menjelaskan bahwa gletser di lereng selatan Gunung Langtang Lirung, Nepal, runtuh pada ketinggian sekitar 5.200 meter. Runtuhan tersebut kemudian memicu longsoran es dan batu yang meluncur cepat menuju wilayah dengan ketinggian sekitar 4.000 meter.
Material yang bergerak deras itu menggerus lereng gunung dan berkembang menjadi aliran material dalam skala besar. Aliran tersebut kemudian melaju sekitar 22 kilometer hingga mencapai Pelabuhan Gyirong yang berada di ketinggian sekitar 1.800 meter.
Bencana itu menghantam area seluas sekitar 0,7 kilometer persegi dan menghancurkan 27 bangunan serta sejumlah fasilitas di kawasan tersebut.
Temuan tersebut disampaikan tim tanggap darurat bencana kriosfer dari Institut Bahaya Pegunungan dan Lingkungan di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok. Kesimpulan diperoleh melalui analisis data pemantauan pengindraan jauh, data transmisi lapangan, serta survei dan investigasi langsung di lokasi.
Pemerintah daerah Xizang menyatakan hingga Sabtu (29/8) pukul 18.00 waktu setempat, bencana di Pelabuhan Gyirong telah menyebabkan 16 orang meninggal dunia dan 546 orang lainnya masih dinyatakan hilang.












