SIARANPUBLIK.COM-Gelombang serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Israel mengguncang Lebanon pada Rabu (8/4), menewaskan ratusan orang dalam waktu singkat. Serangan tersebut tanpa peringatan sehingga menyebabkan korban jiwa bergelimpangan.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 182 orang tewas dan sekitar 890 lainnya mengalami luka-luka. Jumlah korban diperkirakan masih akan bertambah seiring proses evakuasi yang terus berlangsung di sejumlah titik serangan.
Kantor berita Reuters melaporkan jika militer Israel mengklaim telah menghantam lebih dari 100 target dalam waktu sekitar 10 menit, yang disebut sebagai pusat komando dan fasilitas militer milik Hizbullah. Serangan tersebut menyasar berbagai wilayah, mulai dari pinggiran selatan Beirut, Lebanon selatan, hingga Lembah Bekaa di bagian timur.
Di Beirut, tim penyelamat masih melakukan pencarian korban di antara puing-puing bangunan yang hancur. Banyak korban merupakan warga sipil yang tidak sempat menyelamatkan diri.
Serangan ini terjadi di tengah ketidakjelasan status gencatan senjata di kawasan. Pemerintah Israel menegaskan bahwa kesepakatan terkait Iran tidak mencakup konflik di Lebanon. Pernyataan serupa juga disampaikan oleh pihak Amerika Serikat.
Di sisi lain, Hizbullah belum mengklaim serangan baru sejak pengumuman gencatan senjata, namun menegaskan memiliki hak untuk melakukan pembalasan. Kelompok tersebut juga mengimbau warga yang mengungsi agar tidak terburu-buru kembali sebelum situasi benar-benar aman.
Pemerintah Lebanon menyatakan akan terus mendorong agar negaranya masuk dalam skema perdamaian regional. Namun di tengah eskalasi yang terus meningkat, upaya tersebut menghadapi tantangan besar.
Konflik berkepanjangan ini telah menelan lebih dari 1.700 korban jiwa, termasuk anak-anak, serta memaksa lebih dari 1,2 juta orang mengungsi. Banyak warga kini hidup di tempat penampungan darurat dengan kondisi serba terbatas.
Di wilayah perbatasan, sejumlah desa dilaporkan hancur akibat operasi militer Israel yang bertujuan membentuk zona penyangga keamanan. Situasi ini memicu kekhawatiran bahwa sebagian wilayah mungkin tidak dapat segera dihuni kembali.
Presiden Lebanon, Joseph Aoun, menyerukan penyelesaian damai dan menolak penggunaan kekerasan yang dinilai dapat memperparah perpecahan. Pemerintah bahkan membuka peluang negosiasi langsung dengan Israel, meski hingga kini belum mendapat tanggapan.
Sementara itu, situasi di lapangan masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda, dengan ancaman eskalasi lanjutan yang terus membayangi kawasan.






