SIARANPUBLIK.COM-Ketegangan di Timur Tengah meningkat tajam setelah fasilitas nuklir Iran di Natanz Nuclear Facility dilaporkan menjadi target serangan yang diduga melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Laporan media Iran menyebut serangan tersebut menyasar pusat pengayaan uranium utama milik Teheran.
Fasilitas Natanz sendiri dikenal sebagai jantung program nuklir Iran, dengan instalasi bawah tanah yang menyimpan ribuan sentrifugal untuk memperkaya uranium.
Dilansir dari Reuters, meski serangan memicu kekhawatiran global, otoritas Iran menyatakan tidak terjadi kebocoran radioaktif dan tidak ada ancaman langsung bagi warga di sekitar lokasi. Namun, para analis menilai situasi ini “nyaris” memicu bencana besar, mengingat risiko tinggi jika fasilitas nuklir mengalami kerusakan serius.
Serangan tersebut menjadi bagian dari eskalasi konflik yang lebih luas antara Iran dan aliansi AS–Israel. Dalam perkembangan terbaru, kedua pihak saling melancarkan serangan balasan, termasuk serangan rudal Iran ke wilayah Israel yang menyebabkan ratusan korban luka.
Konflik yang terus memanas ini juga berdampak pada stabilitas kawasan, termasuk ancaman terhadap jalur vital energi dunia seperti Selat Hormuz. Gangguan di wilayah tersebut berpotensi memicu krisis energi global dan memperluas dampak konflik ke berbagai negara.
Pengamat internasional memperingatkan, jika serangan terhadap fasilitas nuklir seperti Natanz sampai menyebabkan kebocoran radiasi, dampaknya tidak hanya dirasakan Iran, tetapi juga bisa meluas ke negara-negara Timur Tengah bahkan lintas kawasan.
Hingga kini, situasi masih terus berkembang dengan kekhawatiran dunia terhadap potensi eskalasi yang lebih besar, termasuk kemungkinan konflik terbuka yang melibatkan lebih banyak negara.
Sementara itu, Kepala Badan Energi Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) melalui media sosialnya menyerukan tindakan menahan diri usai serangan baru terhadap fasilitas nuklir Iran
IAEA menyatakan bahwa pihaknya telah diberi tahu oleh Iran mengenai serangan terhadap fasilitas nuklir Natanz pada Sabtu pagi waktu setempat. Badan tersebut tengah menyelidiki situasi dan tidak menerima laporan adanya peningkatan tingkat radiasi di luar lokasi.
Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi kembali menegaskan seruannya untuk menahan diri secara militer guna menghindari kerusakan lebih lanjut yang berpotensi mengakibatkan bencana.
Organisasi Energi Atom Iran melaporkan bahwa Israel dan Amerika Serikat (AS) telah menyasar kompleks pengayaan uranium Natanz pada Sabtu pagi waktu setempat. Tidak ada laporan kebocoran radioaktif, dan warga di sekitar lokasi tidak berada dalam risiko.
Fasilitas nuklir Iran telah beberapa kali menjadi sasaran serangan sejak militer gabungan Israel-AS memulai serangan terhadap negara di Timur Tengah itu pada 28 Februari. Pekan lalu, pada Selasa (17/3) malam waktu setempat, sebuah serangan menghantam area Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr di pesisir selatan sepanjang Teluk Persia.
Otoritas Iran menyatakan bahwa itu merupakan serangan ketiga di sekitar fasilitas nuklir Iran setelah Natanz dan Isfahan, serta mendesak IAEA untuk mengutuk serangan tersebut, seraya memperingatkan adanya “situasi yang sangat genting dan serius”.






