TRAVEL

Menjelajah Gunung Mekongga, Atap Sulawesi Tenggara

170
×

Menjelajah Gunung Mekongga, Atap Sulawesi Tenggara

Sebarkan artikel ini
Puncak Gunung Mekongga. Foto: Ig @elfareza_

KOLAKA UTARA, SIARAN PUBLIK– Di jantung Sulawesi Tenggara, berdiri gagah sebuah gunung yang bagi sebagian besar orang masih terdengar asing: Gunung Mekongga. Dengan ketinggian mencapai 2.620 meter di atas permukaan laut, ia menjadi titik tertinggi di provinsi ini sekaligus menyimpan pesona alam yang memikat, legenda yang hidup, dan tantangan pendakian yang membuat siapa pun terpikat untuk menaklukkannya.

Jejak Legenda di Tanah Mekongga

Nama “Mekongga” bukan sekadar penanda geografis. Dalam cerita rakyat, konon ada seekor burung raksasa bernama Kongga yang pernah berhadapan dengan seorang kesatria pemberani. Dari kisah itulah nama gunung ini lahir, dan hingga kini Mekongga dianggap sakral oleh masyarakat adat Tolaki. Tak heran jika pendaki kerap mendengar cerita mistis seputar kerajaan jin atau pohon-pohon tua berlumut yang dipercaya sebagai gerbang dunia gaib.

Rute Panjang Menuju Puncak

Perjalanan menuju Mekongga dimulai dari Desa Tinukari, Kabupaten Kolaka Utara. Dari Kendari, butuh waktu sekitar 6 jam perjalanan darat untuk mencapai desa ini, melewati Kabupaten Kolaka. Setibanya di Tinukari, petualangan sesungguhnya baru dimulai.

Pendakian ke puncak rata-rata memakan waktu 5 hingga 6 hari. Jalurnya terbagi ke beberapa pos: mulai dari Pos 1 yang hanya 480 mdpl, hingga Pos 8 di ketinggian 2.495 mdpl sebelum mencapai puncak. Di sepanjang perjalanan, pendaki akan melintasi sungai deras Ranteangin, hutan tropis yang rimbun, tebing curam yang rawan longsor, dan padang lumut yang sunyi. Ada pula danau kecil berair cokelat yang dijuluki “Danau Coca-Cola”, hingga batu raksasa yang menyerupai meriam di Pos 7.

Surga Flora dan Fauna Endemik

Gunung Mekongga ibarat laboratorium alam. Hutan hujan tropisnya menjadi rumah bagi anoa, satwa endemik Sulawesi yang kerap disebut kerbau kerdil. Burung rangkok, kakatua, hingga nuri Sulawesi masih bisa ditemui di sini. Vegetasi khas pegunungan tropis seperti anggrek liar, kantong semar, dan pepohonan lumut tebal turut menghiasi jalur pendakian.

Bagi peneliti, Mekongga adalah surga biodiversitas. Bagi pendaki, hutan-hutannya menghadirkan perpaduan antara rasa takjub dan rasa waswas. Setiap langkah seolah menjadi undangan untuk menyatu dengan alam yang masih perawan.

Tantangan yang Menguji Nyali

Mekongga bukanlah gunung bagi pendaki pemula. Jalurnya panjang, medan berat, serta minim fasilitas. Sungai bisa meluap di musim hujan, jalur licin dan longsor kerap menghadang, sementara kabut tebal sering menutup pandangan. Semua itu membuat pendakian ke Mekongga lebih mirip ekspedisi daripada sekadar perjalanan rekreasi.

Namun, justru di situlah daya tariknya. Ketika akhirnya tiba di puncak, rasa lelah terbayar lunas. Dari ketinggian lebih dari dua ribu meter, hamparan hutan Sulawesi membentang luas, berpadu dengan garis pantai Kolaka yang berkilau di kejauhan.

Potensi Wisata yang Tersembunyi

Meski keindahannya tak kalah dengan gunung-gunung di Jawa atau Sumatra, Mekongga belum banyak dikenal. Keterbatasan akses dan minimnya promosi membuatnya jarang menjadi tujuan utama wisatawan. Padahal, dengan pengelolaan yang baik, gunung ini bisa menjadi ikon ekowisata Sulawesi Tenggara.

Bagi mereka yang mencari pengalaman mendaki berbeda dan alami, menantang, sekaligus penuh misteri, Mekongga adalah jawabannya. Ia bukan sekadar gunung, melainkan gerbang menuju wajah Sulawesi yang liar dan otentik.

Gunung Mekongga adalah tempat di mana alam, legenda, dan petualangan berpadu. Sebuah perjalanan yang tidak hanya menguji fisik, tetapi juga mengajarkan kerendahan hati di hadapan kebesaran alam.