NASIONAL

Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Kering dan Panjang, BMKG Ingatkan Potensi Dampak Kekeringan

39
×

Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Kering dan Panjang, BMKG Ingatkan Potensi Dampak Kekeringan

Sebarkan artikel ini
Foto: BMKG

Jakarta, SiaranPublik.com– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau tahun 2026 di Indonesia akan datang lebih cepat dibandingkan rata-rata tahun sebelumnya. Selain lebih awal, kemarau tahun ini juga diprediksi memiliki durasi yang lebih panjang serta kondisi yang lebih kering di sebagian besar wilayah.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan perubahan pola musim tersebut berkaitan dengan berakhirnya fenomena La Niña lemah pada Februari 2026. Saat ini kondisi iklim global telah memasuki fase netral dan berpotensi bergerak menuju El Niño pada pertengahan tahun.

Menurutnya, pemantauan anomali suhu laut di Samudera Pasifik menunjukkan indeks ENSO berada di angka -0,28 yang masih tergolong netral dan diperkirakan bertahan hingga Juni 2026. Namun pada semester kedua tahun ini peluang munculnya El Niño kategori lemah hingga moderat mencapai sekitar 50–60 persen.

BMKG juga memantau kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) yang diperkirakan tetap berada pada fase netral sepanjang tahun.
Peralihan angin muson dari angin baratan menuju angin timuran menjadi salah satu tanda dimulainya musim kemarau. BMKG mencatat sekitar 114 Zona Musim atau sekitar 16,3 persen wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki kemarau pada April 2026.

Wilayah tersebut meliputi pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta sebagian wilayah Kalimantan dan Sulawesi.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa pada Mei 2026 diperkirakan sebanyak 184 Zona Musim akan mulai memasuki kemarau, disusul 163 zona lainnya pada Juni.

Secara keseluruhan, sekitar 46,5 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami awal kemarau yang lebih cepat dari biasanya. Wilayah tersebut mencakup sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, hingga sebagian wilayah Maluku dan Papua.

BMKG memperkirakan puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus 2026 di sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia. Sementara sebagian wilayah lainnya diprediksi mengalami puncak kemarau lebih awal pada Juli, serta sebagian lagi pada September.

Selain datang lebih cepat, sifat musim kemarau tahun ini juga diperkirakan lebih kering dari kondisi normal. Sekitar 64,5 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami kemarau dengan curah hujan di bawah normal, sedangkan sekitar 35 persen wilayah lainnya berada pada kondisi normal.

BMKG juga memperkirakan durasi musim kemarau di lebih dari separuh wilayah Indonesia akan berlangsung lebih lama dari biasanya. Melihat potensi tersebut, BMKG mengimbau pemerintah daerah, kementerian, serta masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan.

Di sektor pertanian, petani disarankan menyesuaikan jadwal tanam serta memilih varietas tanaman yang lebih tahan kekeringan dan membutuhkan air lebih sedikit. Selain itu, penguatan pengelolaan sumber daya air juga dinilai penting melalui optimalisasi waduk dan jaringan distribusi air guna memastikan ketersediaan air bersih serta mendukung kebutuhan energi dan irigasi.

BMKG juga mengingatkan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan serta penurunan kualitas udara selama musim kemarau.

Lembaga tersebut menegaskan bahwa informasi prakiraan musim kemarau ini merupakan bagian dari sistem peringatan dini agar berbagai pihak dapat mengambil langkah antisipasi sejak awal guna mengurangi risiko dampak kekeringan di berbagai daerah.