NASIONAL

Hasil Survei: Dampak Gizi Program MBG Dinilai Belum Signifikan

38
×

Hasil Survei: Dampak Gizi Program MBG Dinilai Belum Signifikan

Sebarkan artikel ini
Tangkap layar paparan Direktur Kebijakan Fiskal CELIOS, Media Wahyudi Askar. Foto: BRIN

JAKARTA, SIARANPUBLIK.COM – Hasil survei terbaru mengungkap bahwa dampak gizi dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih belum menunjukkan hasil signifikan. Temuan ini menjadi sorotan dalam forum Science to Policy Dialogue yang digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Gedung Widya Graha, Jakarta, Selasa (7/4).

Forum bertema Dinamika Implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tersebut menghadirkan berbagai pemangku kepentingan untuk mengkaji pelaksanaan program secara kritis berbasis data dan riset.

Direktur Kebijakan Fiskal CELIOS, Media Wahyudi Askar, menyampaikan bahwa evaluasi terhadap program harus dilakukan sejak dini, bukan setelah seluruh anggaran terserap. Ia menilai pendekatan evaluasi di akhir justru tidak efektif dalam memperbaiki kebijakan.

Dilansir dari BRIN, Wahyudi mengungkap bahwa hasil survei terhadap lebih dari 1.800 responden menunjukkan dampak gizi program MBG belum signifikan. Selain itu, masih ditemukan ketidaktepatan sasaran penerima manfaat (inclusion error), yang mengindikasikan program belum sepenuhnya menjangkau kelompok yang paling membutuhkan.

Ia juga menyoroti potensi inefisiensi anggaran, terutama dalam aspek distribusi dan pemborosan makanan (food waste), serta adanya indikasi distorsi harga pangan di sejumlah daerah.

“Kami tidak menolak ide pemberian makan bergizi, tetapi implementasi dalam skala besar seperti ini membutuhkan desain yang lebih matang,” ujarnya.

Sebagai langkah perbaikan, CELIOS mendorong pendekatan yang lebih terarah dengan memprioritaskan kelompok rentan, seperti keluarga miskin, ibu hamil, dan masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Alternatif lain yang diusulkan mencakup pemberian bantuan tunai atau nutrition voucher, serta penguatan peran sekolah dan pelaku usaha lokal.

Sementara itu, Kepala Organisasi Riset Tata Kelola Pemerintahan, Ekonomi, dan Kesejahteraan Masyarakat BRIN, Agus Eko Nugroho, menegaskan pentingnya evaluasi berbasis data dan standar akademik untuk menjembatani berbagai perspektif dalam kebijakan publik.

Menutup forum, Kepala Pusat Riset Ekonomi Industri, Jasa, dan Perdagangan BRIN, Umi Muawanah, menekankan komitmen BRIN dalam menghadirkan kajian yang objektif dan konstruktif. Ia menyebut riset terkait MBG akan terus diperluas melalui kolaborasi dengan lembaga internasional seperti Stanford dan UNICEF, serta didukung pendanaan melalui skema Riset dan Inovasi Maju (RIM).

BRIN berharap, melalui kolaborasi lintas lembaga tersebut, dapat dihasilkan rekomendasi kebijakan yang lebih tepat sasaran, transparan, dan berdampak nyata bagi peningkatan gizi masyarakat, sekaligus menjaga keberlanjutan fiskal.