SiaranPublik.com- Umat Muslim di berbagai belahan dunia menjalani durasi puasa yang berbeda-beda, dipengaruhi oleh posisi geografis dan pergeseran kalender lunar Islam yang bergerak 10–12 hari lebih awal setiap tahunnya.
Tahun ini, Ramadan jatuh di penghujung musim dingin dan menjelang awal musim semi di Belahan Bumi Utara. Karena berlangsung tepat sebelum ekuinoks musim semi, terjadi apa yang disebut sebagai “peta puasa terbalik”.
Semakin ke utara sebuah kota berada, justru semakin singkat durasi puasanya. Sebaliknya, di Belahan Bumi Selatan, semakin ke selatan, waktu puasa semakin panjang.
Dilansir dari Marocco World News, Fenomena ini dipicu oleh kemiringan sumbu Bumi yang membuat wilayah utara berada di akhir musim dingin dengan siang lebih pendek. Sementara wilayah selatan berada di akhir musim panas dengan siang lebih panjang.
Afrika: Seimbang di Utara, Lebih Lama di Selatan
Di Afrika Utara seperti Maroko, Aljazair, dan Tunisia, durasi puasa pada awal Ramadan berkisar sekitar 12 jam 45 menit dan perlahan bertambah mendekati akhir Maret. Mesir mencatat waktu hampir serupa, sekitar 12,5 jam.
Negara-negara dekat khatulistiwa seperti Nigeria dan Senegal menjalani puasa rata-rata 13 jam. Sementara itu, Afrika Selatan yang berada di Belahan Bumi Selatan mencatat durasi lebih panjang, sekitar 14 jam 15 menit di awal Ramadan sebelum berangsur memendek.
Timur Tengah: Moderat dan Stabil
Di kawasan Teluk dan Levant, durasi puasa relatif moderat. Umat Muslim di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait berpuasa sekitar 12 jam 45 menit hingga 13 jam.
Sementara itu, Turki yang berada lebih utara mencatat durasi lebih singkat, sekitar 12 hingga 12,5 jam.
Eropa: Terpendek di Dunia Tahun Ini
Eropa menjadi kawasan dengan waktu puasa terpendek pada Ramadan 2026, terutama di wilayah utara. Di negara-negara Skandinavia seperti Swedia dan Norwegia, umat Muslim hanya berpuasa sekitar 11,5 hingga 12 jam menjadi yang terpendek secara global tahun ini.
Negara Eropa Barat seperti Prancis, Jerman, dan Inggris Raya mencatat rata-rata 12 hingga 12,5 jam. Sedangkan Eropa Selatan seperti Spanyol dan Italia berkisar 12,5 hingga 13 jam.
Benua Amerika: Variatif dari Utara ke Selatan
Di Kanada bagian utara, puasa berlangsung singkat, antara 11,5 hingga 12 jam. Sementara sebagian besar wilayah Amerika Serikat mencatat 12,5 hingga 13 jam.
Berbeda dengan itu, negara-negara Amerika Selatan seperti Brasil dan Argentina menjalani puasa lebih panjang, antara 14 hingga 15 jam, karena masih berada dalam transisi dari puncak musim panas.
Asia dan Oseania: Indonesia Stabil, Australia Terlama
Di Asia Selatan seperti Pakistan dan India, durasi puasa berkisar 12,5 hingga 13 jam.
Sementara itu, Indonesia dan Malaysia yang berada di sekitar khatulistiwa menikmati durasi relatif stabil, sekitar 13 jam.
Durasi terpanjang justru tercatat di Australia dan Selandia Baru, yakni antara 15 hingga 15,5 jam pada awal Ramadan menjadi yang terlama di dunia tahun ini.
Meski panjang siang berbeda-beda di tiap benua, ritme Ramadan tetap sama: sahur sebelum fajar dan berbuka saat matahari terbenam. Perbedaan waktu tak mengurangi makna spiritual yang menyatukan umat Muslim di seluruh dunia dalam disiplin, ketahanan, dan refleksi diri sepanjang bulan suci.






