EKONOMI

Pemerintah Perkuat Hilirisasi Minyak Atsiri dalam Negeri

265
×

Pemerintah Perkuat Hilirisasi Minyak Atsiri dalam Negeri

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, SIARAN PUBLIK- Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong penguatan hilirisasi industri minyak atsiri dalam negeri guna meningkatkan nilai tambah dan daya saing di pasar global. Indonesia sendiri memiliki potensi besar dalam pengembangan industri minyak atsiri, berkat kekayaan hayati dan warisan pengetahuan lokal yang telah terbentuk selama berabad-abad.

“Keanekaragaman ini menjadi modal penting bagi Indonesia untuk tampil sebagai pemimpin global dalam industri minyak atsiri. Dengan dukungan kondisi agroklimat dan warisan budaya yang kuat, kita memiliki fondasi kokoh untuk membangun industri atsiri yang berdaya saing tinggi,” ujar Inspektur Jenderal Kemenperin M. Rum mewakili Menteri Perindustrian pada pembukaan Aromatika Indofest 2025 di Jakarta, Rabu (9/7).

Dari 97 jenis tanaman atsiri yang dikenal di dunia, sekitar 40 jenis tumbuh subur di Indonesia, dan setidaknya 25 jenis telah dibudidayakan secara komersial seperti nilam, sereh wangi, cengkeh, pala, hingga kenanga. Pada tahun 2024, nilai ekspor minyak atsiri Indonesia mencapai USD259,54 juta dengan minyak nilam sebagai komoditas utama yang menyumbang 54 persen atau senilai USD141,32 juta.

Industri minyak atsiri tersebar luas di berbagai daerah, mulai dari Aceh hingga Papua, dengan didukung lebih dari 3.000 unit penyulingan dan menyerap lebih dari 200 ribu tenaga kerja, mayoritas berasal dari sektor industri kecil dan menengah (IKM). Adapun total kapasitas produksi nasional mencapai 26.398 ton per tahun.

“Ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga pemberdayaan masyarakat,” tegas M. Rum.

Saat ini Indonesia menempati peringkat ke-8 eksportir minyak atsiri di dunia dengan kontribusi 4,12 persen terhadap pasar global. Namun demikian, sebagian besar produk yang diekspor masih berupa bahan baku mentah. “Oleh karena itu, penguatan hilirisasi menjadi strategi kunci untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing industri dalam negeri,” imbuhnya.

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika menambahkan, tren global menunjukkan peningkatan permintaan terhadap produk berbasis bahan alami dan berkelanjutan. Industri kosmetik alami, aromaterapi, pangan, hingga health and wellness menjadi pasar potensial yang terus tumbuh dengan nilai pasar global naik 10 persen pada 2024.

“Komoditas seperti nilam dan cengkeh dari Indonesia telah menjadi bagian penting dalam industri parfum dan gaya hidup sehat dunia,” kata Putu.

Meski demikian, pelaku industri minyak atsiri dalam negeri masih menghadapi sejumlah tantangan seperti terbatasnya diversifikasi produk hilir, ketersediaan bahan baku berstandar, akses pasar global yang terbatas, serta kebutuhan penguatan SDM.

Sebagai bentuk dukungan, Kemenperin menetapkan industri atsiri sebagai sektor prioritas dalam RIPIN, memfasilitasi investasi dan hilirisasi melalui insentif fiskal, menyusun regulasi mutu (SNI dan SKKNI), memperbaiki rantai pasok, membangun database atsiri nasional berbasis web, meningkatkan branding dan promosi global, serta memperkuat pendidikan vokasi dan pusat inovasi hilirisasi.

Salah satu langkah konkret adalah penyelenggaraan Aromatika Indofest 2025 yang digelar pada 9–11 Juli 2025. Festival bertema “Aroma Nusantara: Wangi Alami, Karya Anak Negeri” ini menghadirkan pameran produk atsiri dari hulu hingga hilir, talkshow, workshop, hingga kompetisi parfum berbahan lokal.

“Aromatika Indofest bukan hanya ajang pameran, tetapi juga forum kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat ekosistem industri atsiri nasional,” ujar Putu.

Kemenperin pun mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pelaku usaha, peneliti, komunitas, hingga media untuk bersama-sama mendorong kemajuan industri atsiri Indonesia. “Kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan Aromatika Indofest 2025. Semoga ajang ini menjadi momentum penting dalam memperkenalkan dan memajukan industri minyak atsiri Indonesia ke pasar global,” pungkas Putu.