BeritaBirokrasiTerkini

6 Bulan Dibayar Rp 500 Ribu, Seniman dan Budayawan Tolak Honor PPKD

167Views

PASURUAN, Siaranpublik.com

Benar-benar kebacut dan tidak manusiawi. Lima  orang seniman dan budayawan yang masuk dalam Tim Penyususun PPKD (Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah) menolak pemberian honor dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan. Mereka bekerja selama 6 bulan sesuai SK bupati diberi honor Rp. 500.000,-.

PPKD adalah dokumen tentang strategi kebudayaan daerah. Kabupaten Pasuruan adalah salah satu dari Kabupaten yang terlambat menyusun PPKD.  Atas desakan Dewan Kesenian & Kebudayaan Kab. Pasuruan (DK3P) akhirnya PPKD disusun.

Terkait dengan hal itu dan sesuai dengan amanat UU No. 5 thn 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, Tim PPKD bekerja sesuai SK kepala Daerah dalam hal ini Bupati Pasuruan.

“Sejak awal disosialisasikan, kesan tidak serius sudah diperlihatkan oleh Kepala Disparbud Pasuruan yang menanggapi dengan ogah-ogahan,” kata Ki Bagong Sabdo Sinukarto, Ketua DK3P.

“Dari awal saya sudah melihat ketidak-seriusan Pemkab Pasuruan dalam penyusunan PPKD, tetlihat dari sikap kepala dinas yang tidak responsif, ” ungkap Bagong.

Padahal sanksi dari daerah yang tidak menyusun PPKD adalah tidak akan menerima DAK (Dana Alokasi Khusus) Kebudayaan. “Kalo sampai tidak mendapat DAK Kebudayaan, jelas seniman yang paling dirugikan,” papar Bagong.

Pada 1 Mei 2019 kemarin, Bupati Pasuruan mengeluarkan SK pembentukan Tim PPKD yang bekerja maksimal sampai 1 September 2019. Dan, hari ini, tugas nenyusun PPKD sudah selesai, masalah timbul ketika masing tim hanya diberi honor senilai Rp. 500 ribu selama 6 bulan bekerja.

“Ini bukti kalo pemerintah tidak serius dalam upaya pemajuan kebudayaan, PPKD yang merupakan dokumen terkait strategi kebudayaan daerah, tidak diberi alokasi anggaran memadahi,” tegas Bagong.

Bagong, yang pertama melakukan penolakan pemberian honor dan diikuti oleh bebrapa seniman lain yang ada dalam Tim PPKD. “Ini bukti ketidak seriusan pemerintah yang memandang kebudayaan dengan sebelah mata,” pungkasnya.

wartawan : eko t.

editor.         : zaelani

Siaran Publik
the authorSiaran Publik

Leave a Reply