BeritaBirokrasiTerkini

Sejumlah Warga Jl Erlangga Minta Ganti Rugi Ke PT MRS, Gara-gara Jalan Dibongkar Tak Bisa Jualan

288Views

Siarapublik. com,  PASURUAN

Sejumlah warga sepanjang Jalan Raya Erlangga (Wironini), Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan, minta rugi kepada pelaksana proyek peningkatan PT Multi Razuka Sakti.  Alasannya, sejak ada penggarapan proyek pemasangan box culvert dan beton tanpa tulangan, warga tidak bisa buka usahanya sama sekali.

Dampak pekerjaan proyek peningkatan jalan ini, sangat dirasakan oleh para pedagang kecil yang membuka usahanya di depan rumahnya atau sekitarnya. Warga itu tinggal mulai dari pertigaan Panglima Sudirman hingga Pertigaan Ngegot.

Mereka memilih menutup usahanya karena sepi pembeli akibat dari penutupan jalan yang dilakukan PT. Multi Rasuka Sakti (MRS), selaku pelaksana proyek.

Keluhan pedagang kecil ini ditangkap oleh Komisaris PT MRS, Rusman Ariansyah. Ia mengatakan, pihaknya telah mengundang pemilik warung untuk berdialog. Tujuannya, agar mengetahui apa yang menjadi keluhan pemilik warung dan mecari solusinya. Diutamakan warung yang benar-benar terdampak hingga menutup usahanya.

Dialog dilaksanakan di aula Kelurahan Purworejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan, Senin  (1/10/2018) lalu. Pelaksana mengundang 10 pemilik warung yang dianggap layak mendapat ganti rugi. Fakta, pemilik usaha lainnya yang tidak masuk kreteria ikut hadir.

Dalam dialog tersebut, warga meminta kompensasi ganti rugi selama proyek berlangsung. Dan ganti rugi yang diminta bervariasi antara Rp 200.000,- sampai Rp 300.000,- setiap hari. “Saya keberatan dengan ganti rugi sebesar itu. Misal saja ganti rugi sebesar Rp 200.000,- setiap hari yang diminta warga. Kalau dihitung sebulan kan sudah Rp 6 juta, ” kata Rusman.

Rusman menambahkan, memberi ganti rugi ini merupakan bentuk tanggung jawab sosial perusahannya. Dari pemerintah tidak ada kebijakan ini. Namun yang diminta warga terlalu besar.  Pihaknya mengusulkan ganti rugi sesuai dengan upah minimal Kota Pasuruan sebesar Rp 2.200.000,- per bulan.

“Kami keberatan dengan permintaan warga sebesar itu. Kami hanya mampu sebesar UMK Kota Pasuruan sebesar Rp 2.200.000,- setiap bulan. Dana itu saya ambil dari Corporate Social Responsibility (CSR), perusahaan kami, ” terang Rusman.

Dialog tidak mememui kata sepakat. Karena sebagian warga menerima dan sebagian lainnya menolak. Salah satu pemilik warung yang tidak mau disebut namanya mengatakan, 10 orang pemilik warung sepakat dengan usulan Rusman. Sedang sebagian sudah menerima uang yang besarnya kurang dari satu juta rupiah.

“Orang proyek datang ke rumah saya tadi malam (9/10/2018), dan memberikan uang kurang dari satu juta rupiah. Dan meminta saya untuk tidak ngomong- ngomong ke lainnya, takut warga yang tidak masuk kreteria minta hal yang sama ” katanya.

Pantauan lapangan, hingga hari ini penutupan total akses Jalan Erlangga masih terus berlanjut. Pasalnya proyek belum rampung. Seluruh badan jalan dibongkar, sehingga praktis tidak ada jalan lagi yang bisa dilewati. Rumah-rumah warga yang berada di pinggir jalan protes.

Satu sisi mereka kesulitan keluar rumah,sisi lain,kendaraan (mobil dan motor serta roda tiga) tidak dapat lokasi patarannya. Terpaksa warga harus menitipkan mobilnya kepada tetangga. “Mobil saya sejak proyek digarap tak titipkan kantor. Sekarang dari rumah ke kantor naik motor, ” papar Pujo.

Wartawa : mulyo p.

Redaktur . : zaelani

Siaran Publik
the authorSiaran Publik

Leave a Reply