BeritaTerkini

Aksi HMI Terhadap Melemahnya Rupiah, Murni Independen dan Tidak Ditunggangi

744Views

Siaranpublik. com, PASURUAN

Beberapa hari belakangan, mahasiswa menggelar berbagai aksi menanggapi melemahnya rupiah terhadap Dollar. Nilai tukar rupiah terhadap USD (Dollar) hingga saat ini mencapai di atas Rp 15.000,-. Ini jelas mengganggu keberlangsungan perekonomian yang selama ini berjalan stagnant.

Semua kalangan merasakan dampaknya. Dari dunia usaha, baik perusahaan besar hingga rumahan. Semua terpukul telak dengan mahalnya harga bahan baku import. Apalagi produsen tahu-tempe rumahan. Mereka lebih menjerit. Karena mahalnya harga kedelai (import) yang merupakan bahan utamanya.

Mereka tak berdaya dan semakin pasrah dengan keadaan. Hingga saat ini pemerintah masih belum mampu membuat kebijakan menyelamatkan rupiah dari tekanan dolar Amerika.

Kondisi ini membawa dampak besar pada stabilitas harga. Harga barang- barang mulai terkerek naik. Kalau dibiarkan, penyakit ekonomi akan hinggap di negeri ini, yaitu inflasi.

Hal ini mengundang keprihatinan dan kritisi mahasiswa terhadap krisis nilai tukar rupiah terhadap USD. Itu di implementasikan dalam sebuah aksi yang telah dilakukan dalam beberapa hari ini. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI),  yang paling getol mengkritisi problem bangsa yang terjadi saat ini.

Menurut Ketua Umum HMI Cabang Pasuruan, M. Robet Rifqi Habibi, aksi terhadap krisis rupiah yang dilakukan oleh aktivis HMI adalah bentuk kesadaran akan fungsi mahasiswa sebagai Agent of Change dan Agent of Control serta nilai independensi HMI. Yaitu, independensi etis maupun organisatoris, yang telah diatur di dalam Konstitusi HMI (AD Pasal 06).

Namun, banyak pihak yang memutar balikkan fakta terkait aksi HMI. Salah satunya adalah isu yang mengatakan bahwa aksi HMI ditunggangi oleh pihak – pihak partai maupun organisasi (HTI). Padahal dalam kalimat diatas sudah dijelaskan independensi HMI.

“Mungkin itu adalah sebuah kebutaan bagi pihak- pihak yang tidak bertanggung jawab. Atau ini dijadikan sebuah momentum terkait tahun politik (Pilpres), ” kata Kakanda Robet, sapaan akrabnya.

Robet menambahkan, seluruh insan HMI merasa dikambing hitamkan oleh oknum atau pihak yang tidak bertanggung jawab. “Apakah karena tahun politik (Pilpres) yang melatar belakanginya ? Bagaimana jika aksi yang kami gelar tidak bersamaan dengan momentum Pilpres. Akankah terjadi isu yang sama ? Padahal fakta di lapangan, semua isu yang dilontarkan oleh beberapa pihak tertentu, tidak ada saat aksi kami berlangsung. niat baik kami malah didzolimi, ” pungkas Robet.

wartawan : mulyo p.

redaktur .    : zaelani

 

Siaran Publik
the authorSiaran Publik

Leave a Reply