Terkini

Ketua Umum MPN Ikuti Wawasan Kebangsaan Oleh Lemhanas RI Di Jakarta

205Views

Siaranpublik.com, JAKARTA

Lemhannas RI menggelar Dialog Wawasan Kebangsaan bagi alumni Taplai dan ToT Nilai-nilai Kebangsaan 2018. Peserta 100 orang dari berbagai elemen di Indonesia.  Acara digelar mulai tanggal 3 Juli hingga 5 Juli 2018.

Pusat acara di Gedung Lemhannas RI,  Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Acara ini dibuka langsung  oleh Gubernur Lemhannas RI Letjen TNI Agus Widjojo. Materi yang akan diberikan pada acara ini meliputi,  masalah terorisme, perkembangan media sosial di Indonesia serta narkoba.

Soal teroris, dipaparkan kaitannya dengan Undang-undang dan perkembangan teroris di Indonesia. Sebagai pembicara adalah Irjen Pol Dr. Petrus Reinhard Golose (Kapolda Bali); H.R. Muhammad Syafi’i, S.H., M.Hum (Anggota DPR RI/ Ketua Panja RUU Terorisme); serta mantan anggota teroris, Ali Fauzi.

Materi media sosial (medsos) mengupas soal utama,  yaitu kekuatan medsos di era globalisasi, Undang-undang ITE serta pemanfaatan medsos secara positif. Sebagai pembicara, Sylvia E. Widyantari Sumarlin, M.A. (Ketua Umum Federasi Teknologi Informasi Indonesia); Semuel Pangerapan (Dirjen Aptika Kominfo); serta Fajrin Rasyid (Chief Finance Officer Bukalapak).

Yang terakhir adalah terkait materi narkoba.  Yang dikupas adalah peran serta masyarakat dalam pencegahan, serta pemberantasan dan peredaran gelap narkoba (P4GN). Pemateri, Komjen Pol Drs. Heru Winarko, S.H. (Kepala BNN); Dr. Gerald Mario Semen, SpKJ (Dir Medik & Perawatan RSKO Jakarta); dan Jefry Tambayong (Ketua Forum Organisasi Kemasyarakatan Anti Narkoba).

H. Umar Wirohadi,  SH, MM, Ketua Umum MPN (Majelis Pers Nasional) yang ikut menjadi wakil dari Alumni Lemhanas Jatim, mengaku sangat senang dapat ilmu baru. Kata Umar, dialog tentang wawasan kebangsaan ini diadakan jangan hanya di pusat saja.  Tapi alumni Lemhannas seharusnya diberi tugas untuk menyampaikan di daerahnya masing-maaing.

Alasannya, karena banyak sekali pemahaman tentang wawasan nusantara dan nilai-nilai kebangsaan pada anak usia SD sampai SMA/SMK/sederajat sangat kurang sekali. Terutama  di Madrasah, Diniah atau di pondok pesantren (Pospes)

Masih lanjut Umar, kurikulum sekarang ini sudah tidak lagi mengajarkan soal wawasan kebangsaan. Sehingga, wujud generasi sekarang cenderung tidak punya rasa cinta tanah air. Simbol-simbol negara dianggap biasa saja. Makanya jangan heran kalau generasi sekarang mudah disusupi paham atau ideologi lain.

“Karena kurangnya cinta tanah air. Generasi sekarang sudah tidak lagi menghargai sejarah. Kenapa, karena minim pengetahuan sejarahnya. Pendidikan moral sudah hampir tidak ada. Kalau kondisi ini dibiarkan, negara kita lambat laut akan hancur. Dihancurkan oleh generasinya, ” tegas Umar asal Pasuruan, Jatim Alumni Taplai Malang Raya.  (zaelani)

 

Siaran Publik
the authorSiaran Publik

Leave a Reply